Swarabakti

Epentesis (bhs. Yunani Kuno: ἐπένθεσις epenthesis) adalah penyisipan bunyi atau huruf ke dalam kata, terutama kata pinjaman untuk memudahkan pelafalan atau menyesuaikan dengan pola fonologis bahasa peminjam, misalnya penyisipan /e/ pada kata “kelas” (Kridalaksana, 2008). Berdasarkan jenis bunyi atau huruf yang ditambahkan, epentesis dibagi menjadi ekskresensi (bhs. Inggris:  excrescence)yang menambahkan konsonan, dan anaptiksis (bhs. Inggris:  anaptyxis), yang menambahkan vokal. Anaptiksis dikenal juga dengan istilah swarabakti, dari bahasa Sanskerta svarabhakti. Berdasarkan lokasi penambahan, epentesis pada awal kata disebut protesis, misalnya “mpu” menjadi “empu”, sedangkan epentesis pada akhir kata disebut paragog, misalnya “adi” menjadi “adik”.

Tulisan ini berupaya mengupas fenomena epentesis dalam bahasa Indonesia, khususnya swarabakti, yang antara lain mencakup usul perubahan entri KBBI untuk berbagai definisi yang terkait, kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia saat ini, serta usul perubahan kaidah tersebut.

Entri KBBI

Berikut isi beberapa entri yang terkait dengan epentesis dalam KBBI IV. Sebagai catatan, entri anaptiksis baru ditambahkan dalam KBBI IV dan belum ada dalam KBBI sebelumnya.

  1. anaptiksis n Ling penyisipan vokal pendek di antara dua konsonan atau lebih untuk menyederhanakan struktur suku kata
  2. epentesis n Ling penyisipan bunyi atau huruf ke dl kata, terutama kata serapan, tanpa mengubah arti untuk menyesuaikan dng pola fonologis bahasa peminjam, spt penyisipan /e/ dl kata kelas
  3. paragog n Ling penambahan huruf atau bunyi pd akhir sebuah kata
  4. protesis n Ling penambahan vokal atau konsonan pd awal kata, untuk memudahkan lafal msl e pd nyak menjadi enyak dsb
  5. swarabakti n Ling vokal pendek yg disisipkan dl proses anaptiksis
  6. swarabakti akhir paragog
  7. swarabakti awal protesis
  8. swarabakti tengah epentesis

KBBI IV membatasi definisi swarabakti hanya untuk vokal yang disisipkan (bendanya) dan tidak meliputi keseluruhan proses. Kata majemuk swarabakti tengah dirujuk kepada epentesis, padahal swarabakti dibatasi hanya untuk vokal sedangkan epentesis juga meliputi konsonan. Agak aneh untuk menyamakan “vokal pendek yg disisipkan dl proses anaptiksis (di bagian) tengah (kata)” dengan “penyisipan bunyi atau huruf (bisa vokal maupun konsonan) ke dalam kata”.

Ketidakkonsistenan serupa juga muncul dalam hubungan swarabaktiswarabakti akhirparagog serta swarabaktiswarabakti awalprotesis. Agar taat asas, saya pikir sebaiknya swarabakti dirujuk kepada anaptiksis dan tiga kata majemuk turunan swarabakti dihapus karena berpotensi membingungkan dari segi batasan. Toh, sependek pengetahuan saya, kekerapan penggunaan kata majemuk tersebut nyaris mendekati tiada.

Kata suara dalam bahasa Indonesia juga berasal dari kata svara dari bahasa Sanskerta. Mengapa ada pembedaan penyerapan /v/ di sana (menjadi /u/) dengan /v/ pada svarabhakti (menjadi /w/)? Mengapa tidak dipakai suarabakti dengan /u/ alih-alih /w/?

Kaidah swarabakti

Kembali pada masalah swarabakti, C.A. van Ophuijsen–orang yang mula-mula menetapkan ejaan bahasa Melayu–berpendapat bahwa gugus konsonan yang terdapat pada satu suku kata pada kata pungut haruslah dipisahkan melalui swarabakti oleh /ɘ/, misalnya putera dari bahasa Sanskerta putra. Menurut Badudu (1991), kaidah Ophuijsen itu sekarang dikesampingkan (untuk kata pungut dari bahasa asing) dengan pertimbangan: (1) adanya gugus konsonan dalam bahasa Indonesia tidak menimbulkan kesulitan apa pun dalam lafal bagi pemakai bahasa Indonesia; (2) kita menghendaki agar ejaan kata pungut dalam bahasa Indonesia sedapat-dapatnya dekat dengan ejaan asli kata asalnya; (3) dalam pemungutan kata asing kita sukar menghindari adanya gugus konsonan. Kalau kata bahasa Belanda instructuur diindonesiakan sesuai pedoman Ophuijsen, misalnya, kita akan menyerapnya menjadi in-se-te-ruk-tur.

Badudu juga berpendapat bahwa untuk kata pungut yang berasal dari bahasa serumpun, seperti bahasa Jawa atau Sunda, swarabakti tetap diterapkan untuk gugus konsonan yang terdapat pada suku awal. Alasannya adalah agar kata pungut itu nanti mudah dibentuk apabila diberi awalan me- atau pe-. Contoh: tlusur (bahasa Jawa) diserap menjadi telusur, menelusuri, dan penelusuran. Kaidah ini tidak berlaku untuk gugus konsonan yang tidak terdapat pada suku awal. Contoh: caplok dan gamblang (bahasa Jawa) tidak diserap menjadi capelok dan gambelang.

Singkatnya, mantan pembawa acara Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI ini berpendapat bahwa dalam penyerapan kata ke dalam bahasa Indonesia tidak perlu diterapkan swarabakti atau penyisipan fonem, kecuali pada gugus konsonan yang terdapat pada suku awal bahasa serumpun. Tampaknya kaidah ini memang telah diterapkan oleh para penyusun KBBI. Kata trampil dan kraton dari bahasa Jawa diserap menjadi terampil dan keraton dengan swarabakti. Sebaliknya, credit dan tragedie dari bahasa Belanda diserap menjadi kredit dan tragedi tanpa swarabakti. Tentu saja kita mungkin dapat menemukan ketidakkonsistenan terhadap kaidah ini. Namun, bukan berarti karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Perancis vs Prancis

Masalah swarabakti ini memang sering membingungkan para pengguna bahasa. Salah satu kasus yang saya ingat adalah “Perancis vs Prancis” di Wikipedia bahasa Indonesia (WBI). Pada awal tahun 2006, komunitas WBI menetapkan bahwa ejaan yang digunakan oleh WBI adalah “Perancis” dengan swarabakti. Kata ini diserap dari bahasa Portugis Francês (Russell, 2008) dan, kalau menggunakan kaidah di atas, seharusnya diserap menjadi “Prancis” tanpa swarabakti. Dalam lampirannya, KBBI IV pun mencantumkan nama “Prancis”, bukan “Perancis”. Mungkin ini saat yang tepat bagi komunitas WBI untuk menimbang kembali pilihan kita.

Usul perubahan kaidah

Bahasa adalah pendukung kebudayaan bangsa pemilik bahasa itu. Bahasa tumbuh seiring pertumbuhan kebudayaan bangsa tersebut. Seiring pertumbuhan bahasa, kaidah-kaidah bahasa pun kadang perlu disesuaikan. Kita ambil contoh kaidah peluluhan huruf k, p, s, dan t saat diberi imbuhan me-. Dulu kaidah ini mengecualikan kata-kata serapan asing sehingga komunikasi menjadi mengkomunikasikan dan publikasi menjadi mempublikasikan. Kini pengecualian itu mulai ditinggalkan sehingga bentuk mengomunikasikan dan memublikasikan sudah dipilih menjadi bentuk baku.

Kaidah swarabakti pun mungkin dapat disederhanakan menjadi: tanpa memandang asal pungutan, semua gugus konsonan di awal kata (1) menerapkan swarabakti, atau, sebaliknya, (2) tidak menerapkan swarabakti. Dalam diskusi di milis guyubbahasa beberapa waktu yang lalu, Prof. Bambang Kaswanti Purwo melontarkan gagasan untuk memberlakukan pilihan kedua.

Seandainya aturan main ini — “serapan asing tanpa penambahan /e/, serapan bhs nusantara ditambahkan” — diganti sehingga tidak ada perbedaan perlakuan antara yang asing dan yang nusantara, persoalannya akan menjadi lebih sederhana, ya? Tidak lagi akan memusingkan – baik bagi diri kita sendiri maupun bagi siswa kita — dari mana asal katanya, bahwa ada beda cara penulisannya, bahwa KBBI edisi ke-4 pun belum konsisten. Jadi, <keraton> –> <kraton>; <terampil> –> <trampil>, mengikuti penulisan seperti <Spanyol>, <Inggris>, <kredit>, <tragedi>. (Bambang Kaswanti Purwo, 15 Agu 2011)

Penutup

Bahasa yang tumbuh senantiasa berubah. Asal perubahan itu bersistem, bertaat asas, dan memperkaya bahasa, niscaya perubahan itu dapat diterima. Apalagi jika perubahan ini membuat bahasa tersebut semakin sederhana. Semakin sederhana kaidah suatu bahasa, semakin mudah bahasa itu dipelajari. Semakin mudah bahasa dipelajari, semakin banyak orang yang menguasai bahasa itu. Semakin banyak penutur suatu bahasa, semakin besar potensi bahasa itu untuk menjadi basantara atau lingua franca.

Rujukan

  1. Badudu, J.S. (1991). Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II Cetakan Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  2. Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  3. Muslich, M. (2010). Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia Cetakan Ketiga. Jakarta: Bumi Aksara.
  4. Russell, J. (Ed.) (2008). Loan-words in Indonesian and Malay. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia

3 Responses to Swarabakti

  1. Bang Dje says:

    Jadi ingat mau tanya. Mana kata yang baku, Sumatera atau Sumatra? Dan dari mana kata ini berasal mengingat dahulu nama yang dipakai adalah Andalas?

  2. Alive says:

    Selamat Lebaran.

    Thanks the info

    Manchester united logo

    what you like logo Manchester united ?

  3. Ping-balik: Klik « nan tak (kalah) penting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: