Swakriya

Pada sekitar dasawarsa 1950-an, dengan didorong oleh kebutuhan penghematan, banyak orang di Amerika Serikat berusaha untuk mengerjakan sendiri proyek perbaikan rumah mereka. Istilah “do it yourself”, atau disingkat DIY, muncul untuk merujuk pada kegiatan yang dilakukan oleh para amatir tanpa pelatihan profesional ini. Sejak itu, istilah yang awalnya hanya merujuk pada kegiatan pertukangan ini meluas meliputi berbagai kegiatan seperti pembuatan buku, rekaman musik, dan kerajinan yang dilakukan sendiri. Istilah-istilah turunan seperti DIYer (pelaku DIY), DIY store (toko yang menjual peralatan DIY), dan DIY culture (budaya DIY) pun bermunculan.

Pada dasarnya, DIY mengusung semangat kemandirian dalam berkarya, apa pun motifnya. Istilah karya sendiri atau swakarya mungkin tepat untuk menggambarkan konsep ini dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, meskipun kata swakarya secara leksikal cocok dengan makna DIY, kata ini telanjur lekat dengan gabungan kata desa swakarya yang dipopulerkan pemerintah untuk desa transisi antara desa swadaya (tradisional) dan desa swasembada (maju). Untunglah, ada kata kriya yang medan maknanya dekat dengan karya. Kedua kata ini masing-masing berasal dari bahasa Sanskerta कार्य (kārya) dan क्रिया (kriyā) yang keduanya dapat bermakna kegiatan (Monier-Williams, 1920). Dalam bahasa Indonesia, menurut KBBI IV, karya bermakna pekerjaan atau hasil perbuatan, sedangkan kriya merupakan hiponim karya yang hanya mencakup pekerjaan (kerajinan) tangan.

Sesuai anjuran Kang Jajang untuk terus mencipta kata,  saya menawarkan kata “swakriya” sebagai padanan do it yourself (DIY).

swakriya n pekerjaan atau hasil kerja yang dilakukan oleh amatir tanpa pelatihan profesional di bidang tertentu

Istilah-istilah turunan macam swakriyawan (DIYer), gerai swakriya (DIY store), dan budaya swakriya (DIY culture) selanjutnya dapat dibentuk dari kata ini.

Bagaimana?

Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

3 Responses to Swakriya

  1. mbakdan says:

    Setuju! 🙂 Kata baku yang aku rasa belum ada : perosotan/serodotan, roller coaster, eksis (agak janggal kalau diterjemahkan ‘ada’). Lho, kok seperti pesan kosakata, ya? :p

  2. Asop says:

    Boleh juga. Saya sepakat saja. 🙂

  3. Haqi K. says:

    Hmm… teori yang menarik. Lalu, bagaimana dengan bentukan yang baru-baru ini dipopulerkan media, ‘pemotor’ untuk menyebut ‘pengendara sepeda motor’? Dilihat dari mana pun, bentukan itu terdengar sangat aneh dan tidak ada kata lain yang se-kasus. Kita tidak pernah mendengar bentukan ‘pemobil’ atau ‘pekereta’ atau ‘pepesawat’ atau ‘pesepeda’. Apa memang ada pertimbangan khusus atau bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: