Kateglo

Sebagai pengguna bahasa Indonesia, rujukan yang selalu saya gunakan adalah glosarium dan KBBI daring dari Pusat Bahasa. Glosarium saya gunakan untuk mengecek terjemahan suatu lema bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, sedangkan KBBI saya gunakan untuk mengecek apakah kata terjemahan di glosarium tersebut benar telah masuk dalam kamus, karena kadang ditemukan suatu kata yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Seperti “evergreen” yang diterjemahkan menjadi “malar hijau”. Ehm, malar?

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Tesaurus bahasa Indonesia daring

Tesaurus, mirip dengan kamus, adalah suatu buku yang memuat daftar kata atau lema dalam suatu bahasa yang disusun secara alfabetis. Jika kamus memuat definisi dan pelafalan, tesaurus memuat sinonim dan antonim untuk kata atau lema tersebut. Kata ini berasal dari bahasa Latin thesaurus serta dari bahasa Yunani θησαυρός thesauros yang berarti “gudang”. Maknanya mengalami perluasan sejak penerbitan tesaurus bahasa Inggris pertama, Roget’s Thesaurus, pada tahun 1852.

Karya pertama berbahasa Indonesia yang secara spesifik diberi judul “tesaurus” adalah Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada akhir 2006 dan berisi kurang lebih 16 ribu lema dalam 713 halaman. Walaupun masih ada peluang pengembangan di sana-sini, tesaurus yang merupakan kulminasi dari upaya 25 tahun yang dilakukan oleh Eko dari Komunitas Utan Kayu ini adalah suatu rujukan yang tak ternilai bagi peminat bahasa Indonesia untuk meretas kebuntuan pilihan kata.

Setelah kamus dan glosarium bahasa Indonesia daring serta ekstensi Firefox KBBI Daring, kebutuhan khalayak selanjutnya adalah tesaurus daring. Pertanyaannya, tunggu sampai ada orang yang membuat, atau manfaatkan “kearifan khalayak” untuk membuatnya bersama-sama?