Lawakan tunggal

Sumber: @standupshow

Seperti judul lagu lawas dari Vina Panduwinata, bulan September tahun 2011 ini tampaknya dipenuhi dengan keceriaan karena munculnya dua acara lawak baru. Pada hari Kamis (15/09) yang lalu, MetroTV telah meluncurkan suatu acara baru dengan nama “Stand-up Comedy Show” yang tayangan perdananya menampilkan @solehsolihun, @miund, dan @st_agustaf. Saluran televisi baru, KompasTV, juga rencananya akan menayangkan kompetisi “Stand Up Comedy Indonesia” mulai tanggal 24 September nanti dengan pembawa acara @pandji dan @radityadika serta juri @masbutet, @Indro_Warkop, dan @astreedtiar1207. Saya duga sebentar lagi saluran-saluran televisi lain juga akan mengadakan acara serupa karena tampaknya ada semangat solidaritas yang kuat antarstasiun televisi Indonesia untuk membuat program acara dengan genre yang serupa.

Saya tidak tahu apakah acara kedua stasiun televisi ini diilhami oleh acara #StandUpNite di Comedy Cafe Kemang pada tanggal 13 Juli yang lalu. Saya juga tidak tahu mana yang benar antara pendapat bahwa konsep “stand-up comedy” sebenarnya sudah lama ada dalam masyarakat Indonesia dan pendapat bahwa konsep ini sebenarnya tergolong baru dalam belantika komedi kita. Biarlah kita tunggu fatwa dari @ismanhs tentang masalah ini. Sementara itu, sebelum istilah asing “stand up comedy” ini telanjur lebih dikenal luas, ada baiknya kita pikirkan apa padanan bahasa Indonesia yang pas untuk istilah ini.

Langkah pertama untuk membuat istilah adalah memahami maknanya. Secara singkat, makna leksikal “stand-up comedy” adalah lawakan atau komedi yang dilakukan di atas panggung oleh seorang pelawak atau komedian (comedy performed on stage by a single comedian). Lagi-lagi saya belum tahu apa perbedaan nuansa makna antara lawakan dan komedi yang keduanya ada dalam KBBI ini. Menurut saya, kedua kata itu bermakna serupa. Selain dua kata itu, paling tidak kita juga punya kata banyolanbebodorancandacuradagelangarah-garahgurauanhumorkecandankelakarlelucon, dan olok-olok yang memiliki nuansa makna yang serupa. Dari segi kemudahan pembuatan bentuk turunan, saya pribadi lebih memilih kata lawak dengan berbagai bentuk turunannya: melawak, lawakan, dan pelawak. Lawak juga telah cukup lama ada dalam kosakata bahasa Melayu.

Jadi, saya usulkan untuk menggunakan padanan “lawakan tunggal” untuk “stand-up comedy” dan “pelawak tunggal” untuk “stand-up comedian”. Kalau ternyata “komedi tunggal” dan “komedian tunggal” lebih disukai khalayak, tak apalah. Yang penting, kita harus selalu mengupayakan untuk memadankan istilah asing sebelum telanjur populer. Syukur-syukur stasiun televisi lain yang berencana menggelar program serupa mau menggunakan judul berbahasa Indonesia.

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

19 Responses to Lawakan tunggal

  1. pebbie mengatakan:

    nanti “stand-up comic” dipadankan jadi pelawak tunggal yang disingkat jadi pelatung? 😀

  2. O'nodda (@NengOnodda) mengatakan:

    bahasa asing sudah membudaya di Indonesia sih,jadi bikin kita bingung sendiri mengartikan ke Indonesia.bahkan ada yang lebih nyaman mengucapkannya dengan bahasa asing.

    • ndu mengatakan:

      komedi tunggal? komedi solo? yang jelas harusnya kebiasaan menginggriskan bahasa harus ditinggalkan. itu kalau 10 tahun ke depan kita masih ingin ada negara bernama Indonesia.

  3. abunajiyah mengatakan:

    Kalau di jawa timur, pak kartolo itu stand up commedian juga ya

  4. Bahasa, please! mengatakan:

    untuk bahasa yang lebih santai mungkin bisa kita pakai ‘ngelawak sendirian’ 🙂

  5. Desak Pusparini mengatakan:

    “Saya duga sebentar lagi saluran-saluran televisi lain juga akan mengadakan acara serupa karena tampaknya ada semangat solidaritas yang kuat antarstasiun televisi Indonesia untuk membuat program acara dengan genre yang serupa.”
    Eh, saya kok malah tertarik dengan kalimat ini. Ada nuansa gimana, gitu 😀 #salah fokus?

  6. Miss Culun mengatakan:

    ok mas.. akan saya populerkan #LawakanTunggal hehe :”)
    terus berbagi!

  7. Jauhari mengatakan:

    Lawakan Tunggal… nama yang menarik mas…

  8. Pambudi mengatakan:

    Makasih infonya, kunjungi balik blogku ya.

  9. Ditter mengatakan:

    Setahu saya “stand up comedy” nggak sekadar melawak, Mas. Tapi ada semacam kritik sosial yg terkandung dlm materi komedi yg dibawakan oleh comic (stand up comedian). Karena itulah berkali-kali @pandji bilang bahwa stand up comedy berbeda dengan comedy telling . Mohon koreksi bila salah 😀

    Kesimpulannya, saya rasa “lawakan tunggal” bukan padanan yg tepat, karena kurang mewakili makna kata (atau konsep) “stand up comedy”….

    • maya pakpahan mengatakan:

      Mungkin maunya @panji begitu, tapi kalau dilihat materi stand up comedy yang selama ini ada, apakah ada kritik sosial itu? atau lebih tepatnya adakah lawakan stand up comedy yang cukup cerdas dan berbobot, termasuk yang dibawakan oleh @panji sendiri

      hampir 100% banyolan yang ditawarkan sama dan sejenis atau malah persis sama dan pernah kita dengar dalam gurauan sehari-hari

    • Inge mengatakan:

      Sepakat dengan @Ditter tentang makna ‘stand up comedy’ 😀

      • Priadarsini 'Dessy' mengatakan:

        setuju dengan ditter, dan menurut aku comic yg paling top dlm olah kata dan kritik sosial itu IHSAN NUR AKBAR ato akun twitternya @akbar___ … Dia runner up Stand Up Comedy KompasTV… Kritik yg ngena dikemas dg lucu..

  10. Tri mengatakan:

    Indonesia menertawakan masyarakat indonesia tanpa tau kalo yang ditertawakannya adalah dirinya sendiri. Ayo Koreksi bangsa ini agar menjadi lebih baik! Go StandUp Comedy

  11. coretan tinta mengatakan:

    Lawakan Tunggal… memang nama yang menarik

  12. balantina mengatakan:

    Setuju dengan “lawakan tunggal”. Maknanya mengena.

    Setuju untuk selalu berusaha mencarikan padanan bahasa Indonesia untuk setiap istilah asing. Pertama memang akan terasa aneh, tapi lama-lama juga akan terbiasa juga. Kalau orang lebih gengsi pakai bahasa asing, entah kenapa saya lebih merasa bangga kalau bisa mengucapkan padanan Indonesianya.

  13. Iwan mengatakan:

    Wah,baru tahu saya dengan istilah-istilahnya.

  14. ciyeeee ciyeeeee mimin ehemmmmmm 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: