Hukum D-M

Salah satu kaidah bahasa Indonesia yang paling sering kita dengar adalah “hukum D-M“, kependekan dari “diterangkan-menerangkan”. Kaidah ini dicetuskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dalam buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia yang terbit pertama kali pada tahun 1949 dan kebetulan berhasil saya peroleh dari Pak Zul. Definisi hukum D-M menurut STA adalah:

Baik dalam kata majemuk maupun dalam kalimat, segala sesuatu yang menerangkan selalu terletak di belakang yang diterangkan.

Contoh penerapan yang diberikan STA adalah kata “kapal terbang” dan kalimat “Ali makan.” Dalam kata majemuk “kapal terbang”, kata kapal diterangkan oleh kata terbang. Demikian juga dalam kalimat “Ali makan,” Ali diterangkan oleh makan. Meskipun STA hanya mencantumkan “kata majemuk” dalam pemeriannya, saya yakin bahwa frasa macam “baju merah” pun ikut tunduk dengan aturan ini.

Baca pos ini lebih lanjut

Kalimat efektif

Bagi pengguna Twitter, pembuatan kalimat yang efektif–selain efisien tentunya–adalah suatu keterampilan yang harus dimiliki. Hal ini yang mungkin membuat banyak pekicau akhirnya memilih untuk menggunakan bahasa Inggris dalam kicauannya: karena merasa bahwa kalimat dalam bahasa itu lebih efektif daripada kalimat dalam bahasa Indonesia. Saya pikir pendapat itu tidak benar dan mungkin disebabkan oleh kurangnya keterampilan kita dalam membuat kalimat efektif dalam bahasa Indonesia.

Baca pos ini lebih lanjut

Pengaruh tata bahasa Inggris

English learning Beberapa waktu yang lalu, Dr. Timothy Hassall, pengajar bahasa Indonesia di Universitas Nasional Australia, Canberra, menulis suatu artikel berjudul English is Changing The Grammar Of Indonesian di situs Bahasa Kita. Artikel dalam bahasa Inggris ini menjabarkan beberapa contoh perubahan dalam tata bahasa Indonesia yang timbul karena pengaruh bahasa Inggris: (1) kata kerja di awal kalimat, (2) kata “adalah” dan “suatu/seorang”, (3) struktur aktif pada klausa objek, (4) bentuk jamak, dan (5) kata ganti orang ketiga untuk objek.

Baca pos ini lebih lanjut