Seni membaca

Menurut ibu saya, saya suka sekali membaca buku sewaktu kecil. Yang saya ingat, bacaan pertama saya adalah buku-buku karangan Enid Blyton seperti seri Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu. Kesukaan membaca buku fiksi tersebut berlanjut dengan koleksi buku Nick Carter John GrishamMario Puzo, dan berbagai pengarang lain, hingga trilogi The Hunger Games yang baru selesai saya baca sekitar dua minggu yang lalu. Kecepatan saya kala membaca buku fiksi cukup tinggi. Satu buku setebal 500 halaman biasanya dapat saya selesaikan dalam waktu sekitar lima jam.

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Penelaahan sejawat

Salah satu istilah yang sempat memusingkan saya sewaktu pembuatan tesis adalah peer review. Masalah pertama adalah masalah klasik pada kata majemuk bahasa Inggris: apakah kata ini ditulis terpisah dengan spasi (peer review), terpisah dengan tanda hubung (peer-review), atau serangkai (peerreview)? Masalah kedua pun tak kalah pelik: apa padanan kata ini dalam bahasa Indonesia?

Masalah pertama dengan cepat terselesaikan. Artikel Wikipedia bahasa Inggris dan berbagai kamus daring menunjukkan penulisan yang cukup konsisten: peer review ditulis terpisah dengan spasi. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada proses evaluasi yang dilakukan oleh individu yang berkompeten pada suatu bidang tertentu. Evaluasi ini bisa dilakukan terhadap kinerja profesional (professional peer review) ataupun terhadap karya, penelitian, atau gagasan cendekia (scholarly peer review). Jenis yang kedua inilah yang paling dikenal.

Baca pos ini lebih lanjut

Manis getir

Pertanyaan @gitaputrid membuat saya tergelitik, “Adakah terjemahan bahasa Indonesia untuk bittersweet?” Spontan saya teringat dengan “pahit getir“, ungkapan untuk menggambarkan berbagai kesulitan dan kesusahan (tentang perjalanan hidup). Berangkat dari analogi dengan ungkapan ini, saya berpikir untuk memadankan bittersweet dengan “manis getir“. Eh, ternyata /rif pun pernah menggunakan “manis getir” sebagai judul tembang mereka!

Baca pos ini lebih lanjut

Dengan senang hati

Saya kadang bingung kala menanggapi ungkapan “terima kasih“. Biasanya saya menanggapi dengan “sama-sama”. Tanggapan itu pula yang biasa saya terima dari orang lain sebagai balasan ucapan terima kasih saya. Dalam ragam informal, saya pikir tanggapan semacam ini tidak masalah. Yang membuat saya bingung adalah bagaimana menanggapi ungkapan “terima kasih” dalam ragam yang lebih formal serta apakah “sama-sama” ini dapat diberikan dalam semua konteks.

KBBI mencantumkan entri “sama-sama” sebagai adverbia dengan makna “kedua belah pihak tidak berbeda atau tidak berlainan; semuanya”. Nah, saya merasa makna ini tidak cocok sebagai tanggapan “terima kasih”. Apa yang tidak berbeda? Apa yang semuanya?

Baca pos ini lebih lanjut

Tesis

Pada hari Selasa, 19 Juni 2012 yang lalu, saya berhasil melewati sidang karya akhir pascasarjana di Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia (MTI UI). Meskipun ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan, dewan penguji yang terdiri dari Riri Satria (pembimbing), Yudho Giri Sucahyo, dan Budi Yuwono menerima tesis saya yang berjudul “Strategi Peningkatan Kualitas Ilmiah Wikipedia Bahasa Indonesia“. Alhamdulillah.

Sejak semester II dua tahun yang lalu, saya sudah berniat menjadikan keandalan Wikipedia sebagai topik karya akhir saya. Sebagai wikipediawan, saya resah melihat penolakan akademisi untuk menjadikan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Padahal, saya sendiri hampir selalu menggunakan Wikipedia sebagai gerbang utama pembelajaran mengenai suatu topik. Saya yakin banyak orang lain yang melakukan hal yang sama.

Baca pos ini lebih lanjut

Kepo

Gambar: lidahibu.com

“Jangan kepo, ah.” Kata kepo pertama kali saya (curi) dengar beberapa bulan yang lalu dari percakapan di meja sebelah saya – yang penuh oleh mahasiswa LSPR – saat sedang makan di restoran dekat kantor. Meskipun tidak tahu makna sebenarnya, dari konteks pembicaraan mereka saya menebak bahwa kalimat itu kurang lebih berarti, “Jangan ingin tahu urusan orang lain, ah.” Lumayan, bertambah satu kosakata bahasa gaul saya.

Dua hari yang lalu saya menanyakan makna dan asal kata kepo kepada khalayak Twitter. Dari berbagai tanggapan yang masuk, tampaknya tebakan saya tentang makna kata ini cukup betul. Penjelasan tentang asal kata kepo beragam, tetapi sebagian besar mengatakan bahwa kata ini berasal dari bahasa atau dialek Hokkian atau Min Nan. Tanggapan dari @sfahmism mengantarkan saya ke tulisan Aussie Pete, SINGLISH – A Language Guide for Foreigners, yang mencantumkan: Baca pos ini lebih lanjut

Klik

KBBI IV menambahkan homonim ketiga untuk kata klik dengan makna (1) kegiatan menekan dan melepas tombol pada tetikus komputer; (2) suara ‘klik’ pada kamera, tombol komputer, dsb. Kata serapan click dalam bahasa Inggris ini diturunkan menjadi mengeklik bila diberi awalan meN- karena dianggap memiliki satu suku kata (ekasuku). Dalam kaidah pengimbuhan bahasa Indonesia, kata dasar ekasuku mendapat swarabakti “e” saat diberi awalan meN-. Contoh lain pengimbuhan ekasuku ini adalah mengepelmengebom, dan mengecat.

Meskipun memiliki pola yang mirip karena sama-sama diawali oleh konsonan rangkap “kl” dan berasal dari serapan bahasa asing, kata klaim menjadi mengklaim (bukan mengeklaim) saat diberi awalan meN-. Ada dua kemungkinan: Baca pos ini lebih lanjut

Tanja

Singkatan FAQ (frequently asked question[s]) digunakan pertama kali oleh Eugene Miya dari NASA untuk milis SPACE pada tahun 1983. Pada awalnya, FAQ digunakan untuk merujuk kepada kiriman berkala yang berisi pertanyaan (dan jawabannya) yang sering diajukan oleh para anggota milis, dengan tujuan utama untuk mencegah diajukannya pertanyaan serupa. Tradisi ini pun menyebar ke berbagai ranah dan format karena (barangkali) dianggap cukup efektif untuk memberi informasi kepada para anggota atau pengguna baru.

Masalah pengulangan pertanyaan juga saya temui pada berbagai komunitas maya yang saya ikuti. Untunglah beberapa komunitas, seperti Wikipedia Indonesia dan milis Bahtera, sudah mencoba mengikuti tradisi penulisan FAQ. Faedah FAQ ini sangat saya rasakan karena, meskipun ulangan pertanyaan tidak dapat dicegah, para penanya dapat dengan mudah diberikan tautan rujukan laman FAQ yang terkait, alih-alih harus dijawab dengan panjang lebar. FAQ ini pun berguna sebagai sarana agregasi pendapat dalam komunitas — unsur terpenting dalam penerapan konsep kearifan khalayak (Surowiecki, The Wisdom of Crowds2004).

Baca pos ini lebih lanjut

Anda

Eureka! Demikian sorak saya dalam hati sewaktu menemukan artikel mengenai T-V distinction (pembedaan T-V) di Wikipedia bahasa Inggris. Artikel ini secara ilmiah menjawab dua pertanyaan saya, dan mungkin juga pertanyaan sebagian besar penutur bahasa Indonesia, tentang kata “Anda”: (1) mengapa ada pembedaan antara sapaan orang kedua formal dengan informal? (2) mengapa huruf “A” pada kata itu ditulis dengan huruf kapital?

Sejarah pembentukan kata “Anda” yang dipopulerkan oleh Pak Rosihan Anwar ini telah diuraikan oleh Pak ABS di milis Bahtera pada akhir tahun 2009. Menurut Pak ABS–yang mengenal Pak Rosihan secara pribadi dan mengikuti proses kemunculan kata “Anda” di koran Pedoman pada tahun 1958–kata ini lahir dari kata “andika“, sapaan hormat orang kedua; Tuanku. Bahwa kata ini diusulkan oleh seorang mayor penerbang dari Palembang atau berasal dari nama seorang penyanyi barangkali saja benar, tetapi kita butuh fakta sejarah autentik untuk membuktikan hal tersebut. Mengapa kata ini yang dipilih dan bukan kata yang lain? Saya pikir alasannya adalah semata pilihan sang pencipta kata yang kemudian diiakan oleh para penutur bahasa (pada zaman itu). Yang ingin saya uraikan di sini adalah jawaban dari dua pertanyaan pada alinea pembuka.

Baca pos ini lebih lanjut

S-2

Dunia pendidikan kita mengenal istilah “strata” (jalur akademis) dan “diploma” (jalur profesional) untuk jenjang pendidikan. Kedua istilah ini masing-masing disingkat menjadi “S” dan “D” dan diikuti oleh angka yang menunjukkan jenjangnya. Sayangnya, penulisan singkatan yang diikuti oleh angka ini belum seragam. Ada yang menulis dengan tanda hubung, misalnya “S-2”, dan ada yang tidak, misalnya “S2”.

Baca pos ini lebih lanjut