Peran Manusia

Kemarin saya mengobrol dengan istri saya. Dia baru saja mengikuti seminar yang membahas topik hakikat hidup manusia. Pembahasannya umum, tidak berdasarkan agama tertentu. Pembicara pada seminar itu bilang bahwa manusia sebenarnya sekadar penyalur kehendak Tuhan. Tiap manusia punya peran masing-masing, yang disepakati melalui diskusi dengan Tuhan sebelum roh diembuskan kepada manusia. Peran itu mestinya memberi manfaat, bukan mudarat, bagi buana. Catatan peran tiap manusia–ini menurut istri saya, bukan pembicara seminar–disimpan di lauhul mahfuzh (لَوْحُ المَحْفُوظٍ).

Sebagai orang yang otak kirinya dominan, biasanya saya jarang mendiskusikan hal seperti itu dengan serius. Karena obrolan dengan istri itu terjadi hanya beberapa hari setelah ulang tahun saya yang ke-45, jadilah saya menimpali ceritanya dengan seru. Saya setuju dengan pokok pikirannya. Saya pikir hal tersebut sangat masuk akal dan sesuai juga dengan ilmu manajemen yang selama ini saya pelajari: Tiap individu punya peran masing-masing dalam suatu sistem manajemen dan peran itu perlu ditentukan.

Hadiah dari Ditta @helloditta untuk Ultah Ke-45 Saya

Perbedaan antara peran seseorang dalam sistem manajemen dan dalam kehidupan adalah penentuannya. Dalam sistem manajemen, peran ditentukan dengan jelas dan kerap ditugaskan secara eksplisit. Dalam kehidupan, seorang manusia acap tidak tahu atau masih mencari tahu perannya. Seseorang sering tidak bisa memilih peran dalam sistem manajemen, sedangkan pilihan itu terbuka lebar dalam kehidupan. Diskusi dengan Tuhan sebelum kita lahir tidak menentukan satu peran, tetapi memberikan beberapa pilihan peran yang dapat diambil.

Kesadaran tentang adanya peran titipan Tuhan itu niscaya membawa kedamaian. Kita tidak sibuk menyombongkan diri tentang apa pun yang berhasil kita lakukan. Apa yang perlu dijemawakan? Semua kebisaan kita diberikan Tuhan untuk mendukung peran kita. Saya, misalnya, tidak pernah bermimpi untuk menjadi pencinta bahasa Indonesia yang membantu warganet meningkatkan keterampilan bahasa melalui media sosial. Saya juga tidak pernah mengangankan untuk menjadi konsultan manajemen yang membantu banyak perusahaan untuk menata sistem manajemen mereka. Kedua peran itu muncul seiring dengan berjalannya waktu.

Carilah apa peran Anda di dalam kehidupan ini. Saya beruntung sudah lebih dahulu melakukan pencarian itu. Kini giliran generasi berikutnya.

Ada keilahian dalam setiap insan.
Manusia pembawa pesan lauhul mahfuzh.
Utusan penabur maslahat untuk seantero jagat.

Rendahkan hati.
Serap ilmu dari semesta.
Sampaikan makrifat walau hanya seayat.
Bawa manfaat, bukan mudarat.

2 tanggapan untuk “Peran Manusia

  1. Terima kasih, Uda Ivan Lanin… tulisan kali ini bisa nyambung sama obrolan saya dan teman, persis tadi malam.. Tentang “kurikulum” kehidupan manusia yang berbeda-beda dan sdh ditentukan sblm manusia itu dilahirkan. Tulisannya bagus sekali :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s