Dari Lisan Menjadi Tulisan

Sudah lebih dari dua pekan saya berhasil mendisiplinkan diri untuk menulis tiap hari. Tidak suang, tetapi juga tidak muskil. Alhamdulillah, saya sudah berhasil menemukan pola menulis yang efektif. Saya membuat tulisan sambil membayangkan sedang bercerita kepada kerabat atau sahabat. Yang berbeda hanya keluarannya. Kalau berbicara keluarannya adalah lisan, keluaran menulis adalah tulisan. Duh, kalimat terakhir itu sebenarnya kurang efektif karena mengulang kata dasar yang sama: tulis. Biarlah.

Persiapan

Yang pertama mesti disiapkan ialah niat. Itulah yang membuat saya bisa meluangkan waktu tiap hari untuk menulis. Niat saya untuk menulis didorong oleh tiga hal, yaitu untuk (1) memaksa diri menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, (2) berlatih menggunakan ragam bahasa baku yang tidak kaku, dan (3) menyebarkan pengetahuan dalam bentuk yang sistematis. Ketiga alasan itu ternyata mampu memotivasi saya untuk menulis tiap hari.

Setelah niat, masalah berikutnya adalah tema dan bahan tulisan. Masalah itu tidak seberat niat. Saya sudah terbiasa langsung mencatat gagasan ketika dia melintas. Aplikasi Simplenote membantu hal ini dengan menyinkronkan catatan di ponsel dengan di laptop. Saya catat singkat di ponsel, lalu dikembangkan di laptop. Ketika menunggu sesuatu, saya pun dapat melanjutkan penulisan di ponsel. Bahan juga saya dapatkan dari catatan lampau yang belum sempat dikembangkan. Dengan sedikit tambahan riset, bahan tulisan bisa dikemas dari catatan lampau.

Penulisan

Hal ketiga adalah sistematika. Saya bukan orang yang bisa bercerita (storytelling) dengan panjang. Saya orang teknik yang praktis. Oleh sebab itu, saya lebih cocok dengan jenis wacana eksposisi yang mengupas sesuatu. Sistematika standar saya dalam menulis adalah membagi tulisan menjadi tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup. Pembuka dan penutup masing-masing biasanya terdiri atas satu paragraf saja. Pembuka mengantar topik yang dibahas, sedangkan penutup menekankan pesan yang ingin saya sampaikan. Di antara kedua bagian itu saya memasukkan uraian sebanyak beberapa paragraf.

Nah, selanjutnya media dan format. Media utama saya, ya, teks. Namun, teks semata saya pikir membosankan. Kadang saya bumbui tulisan dengan ilustrasi untuk memudahkan pemahaman. Ilustrasi itu paling sering saya buat dengan aplikasi pembuat presentasi atau pemetaan pikiran. Dua aplikasi ini paling sesuai dengan hati saya. Pembagian butir-butir pikiran pada ilustrasi biasanya tecermin dalam bentuk subjudul pada tulisan. Ilustrasi bisa dibuat lebih dahulu untuk membimbing pembuatan tulisan, tetapi bisa juga dibuat setelah tulisan rampung. Kalau sedang tidak sempat membuat ilustrasi, tulisan saya biarkan hanya terdiri atas teks. Saya juga mengusahakan panjang tiap paragraf mirip.

Penyebaran

Terakhir, penyebaran. Karena salah satu niat saya adalah untuk menyebarkan pengetahuan, orang perlu tahu ada tulisan baru dari saya. Platform blog WordPress yang saya gunakan menyediakan fasilitas untuk menyebarkan tautan tulisan secara otomatis ke beberapa media sosial. WordPress juga menyediakan fasilitas penjadwalan penerbitan pada waktu tertentu. Saya memanfaatkan kedua fitur ini untuk menerbitkan tulisan setiap pukul enam pagi dan menyebarkan tautan ke Twitter, Halaman Facebook, dan LinkedIn. Karena tidak bisa dibuat otomatis, pengiriman ke akun pribadi saya di Facebook mesti dilakukan secara manual. Itu saya lakukan pada sekitar pukul lima sore.

Selama dua pekan ini, saya kadang bisa mencicil beberapa tulisan untuk diterbitkan pada hari-hari berikutnya. Tak jarang, tulisan harian baru bisa saya selesaikan pada detik-detik menjelang tenggat pukul enam pagi, atau bahkan lewat tenggat. Namun, alhamdulillah saya berhasil istikamah menulis tiap hari. Anda tidak tertarik untuk mencoba? Banyak maslahatnya, lo.

6 tanggapan untuk “Dari Lisan Menjadi Tulisan

  1. Saya pernah mendisiplinkan menulis setiap hari. Biasanya saat ada tantangan menulis bulanan saja. Awalnya memang sulit, sering kali baru menulis saat mendekati tenggat waktu, hahaha. Namun, lama-lama terbiasa. Terasa ada yang kurang jika hari itu belum menulis.

    Menurut saya, menulis setiap hari butuh komitmen yang kuat. Tips untuk saya pribadi adalah menyediakan waktu khusus untuk menulis. Kedua, jangan sampai bolong satu hari pun. 😄

  2. Terima kasih, Uda. Setelah membaca ini, niat nulis ada cuma istikamahnya yang belum, hehe…Semoga selama isolasi mandiri ini saya bisa rutun nulis 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s