Lima Aspek Wacana

Tujuan akhir memupuk keterampilan bahasa adalah agar dapat menyampaikan wacana dengan baik. Wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap yang diwujudkan dalam bentuk lisan (obrolan, pidato, presentasi, dll.) ataupun tulisan (pesan singkat, artikel, laporan, dll.). Suatu wacana memiliki suatu topik yang dibahas secara berkesinambungan, kohesif, dan koheren sepanjang tuturan atau tulisan wacana tersebut. Berdasarkan pengalaman saya mengajar keterampilan bahasa untuk berbagai jenis wacana, ada lima aspek yang perlu diperhatikan untuk dapat menyampaikan suatu wacana dengan baik, yaitu tujuan, bahan, sistematika, media, dan format.

Lima Aspek Wacana

1. Tujuan

Segala hal diawali dengan niat. Pemilik pesan perlu menetapkan dulu tujuan wacana, yaitu apa yang akan disampaikan (tema) dan siapa yang menjadi tujuan penyampaian (audiens). Kedua hal itu perlu diselaraskan. Tema yang sama dapat disampaikan dengan cara yang berbeda untuk audiens (pendengar atau pembaca) yang berbeda. Tidak atau lupa merumuskan suatu tema spesifik untuk suatu wacana dapat membuat penyampaian pesan gagal karena tidak efektif atau tidak efisien. Kegagalan itu juga dapat terjadi ketika terlalu banyak tema terpisah yang disampaikan dalam satu wacana.

2. Bahan

Setelah menetapkan tema dan audiens, bahan yang diperlukan perlu dihimpun. Pengumpulan bahan dapat dijalankan melalui empat sarana, yaitu bacaan, survei, wawancara, dan observasi. Keempat keterampilan bahasa berperan penting dalam pengumpulan bahan, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Bacaan kerap dianggap sebagai sarana pengumpulan bahan yang paling mudah karena bahannya relatif lebih mudah diperoleh. Sebaliknya, observasi atau pengamatan acap dianggap yang paling sulit karena memerlukan metode khusus untuk dilakukan dan diinterpretasi. Jangan lupa untuk menata bahan yang diperoleh agar mudah diakses kembali.

3. Sistematika

Bahan yang dikumpulkan menjadi dasar penyusunan wacana secara sistematis. Sistematika penyajian wacana pada dasarnya terdiri atas tiga bagian, yaitu pembuka, isi, dan penutup. Bagian pembuka mengantarkan pembahasan tema; bagian isi mendedahkan inti pesan yang ingin disampaikan; bagian penutup mengakhiri uraian. Bagian pembuka harus menarik perhatian audiens agar mereka tetap menyimak atau membaca wacana. Setelah audiens tertarik, bagian isi harus dapat menyampaikan tema wacana secara mangkus, dan mungkin juga secara sangkil. Terakhir, bagian penutup harus dapat menanamkan pesan lebih dalam, baik dalam bentuk ringkasan, simpulan, maupun saran.

4. Media

Penyampaian melalui suara untuk wacana lisan dan melalui teks untuk wacana tulis menjadi lebih kaya ketika dibumbui dengan berbagai media. Tabel digunakan untuk menyajikan data dalam lajur dan deret sehingga mudah disimak. Ilustrasi (gambar, foto, diagram, dll.) digunakan untuk memperjelas paparan dengan menampilkan bentuk visual. Audio dan video menambahkan masukan wacana untuk pendengaran. Selain yang dapat diterima mata dan telinga, media yang dapat ditangkap oleh indra lain–hidung (pencium), lidah (pengecap), dan kulit (peraba)–mungkin juga dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai sarana penyampaian wacana.

5. Format

Pengaturan format berbagai media penyampaian diperlukan agar wacana tertata dengan serasi dan lebih mudah diterima. Dalam wacana lisan, sinyal nonverbal dapat menguatkan, melemahkan, atau menggantikan kata. Komunikasi nonverbal itu diwujudkan dalam ekspresi wajah, gestur dan postur, karakteristik suara, tampilan, sentuhan, serta waktu dan ruang. Dalam wacana tulis, format diatur dari tataran huruf, paragraf, halaman, hingga dokumen. Pengaturan format untuk wacana lisan dapat disempurnakan melalui latihan, sedangkan format untuk wacana tulis dapat diperbaiki melalui penyuntingan.

Penutup

Lima aspek di atas berlaku untuk wacana apa pun, baik lisan maupun tulisan, baik pendek maupun panjang. Dua aspek terpenting yang tidak boleh dilewatkan adalah penentuan tujuan dan penyusunan sistematika. Dua hal tersebut menetapkan arah dan membimbing jalan penyampaian wacana.

2 tanggapan untuk “Lima Aspek Wacana

  1. Hmm. Saya ingin menanyakan sesuatu, tetapi di luar topik yang dibicarakan. Kenapa Agan menambahkan tanda koma sebelum “dan mungkin juga secara sangkil” (poin ketiga, sistematika). Saya bingung kenapa ada tanda koma sebelum kata “dan” di situ. Apa bedanya jika tidak diberi tanda koma? Saya benar-benar bingung mengenai masalah ini sejak cukup lama–karena saya juga pernah melihat kasus seperti ini sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s