Batas

When you go to your limits, your limits will expand. (Robin Sharma, 2010, hlm. 98)

Sebenarnya saya jarang membaca buku-buku pengembangan pribadi (self-development) seperti buku The Leader Who Had No Title: A Modern Fable on Real Success in Business and in Life karya Robin Sharma. Namun, filsafat “memimpin tanpa jabatan” yang diusung oleh buku ini sangat mengena di hati saya. Saya pun memaksakan diri untuk membaca habis buku ini di sela-sela kesibukan kantor.

Seperti halnya berbagai buku lain dengan genre serupa, buku ini sarat dengan nasihat dan pernyataan bagus, yang sebenarnya sudah kita ketahui, tetapi kadang lupa. Contohnya kutipan pada awal tulisan ini yang saya terjemahkan menjadi, “Saat kita mendekati batas kita, batas itu pun akan mengembang.” Berdasarkan pengalaman saya, pernyataan itu benar belaka dan sudah beberapa kali saya buktikan.

Pertama, masalah ilmu manajemen. Saya dulu enggan mempelajari ilmu ini karena menurut saya ilmu ini sama sekali tidak eksak. Semuanya serba relatif terhadap sudut pandang penulis. Saya pun menetapkan batas saya untuk tidak mempelajari ilmu manajemen. Tuntutan pekerjaan membuat saya terpaksa mendekati batas tersebut dan sedikit demi sedikit mulai mempelajari ilmu tersebut dengan menelan kekesalan akan ketidakeksakannya. Hasilnya? Tengok tulisan-tulisan yang saya buat dalam dua bulan terakhir ini. Bah! Saya pun heran, kok bisa ya saya membuat tulisan-tulisan tentang manajemen?

Kedua, masalah administrasi proyek. Saya dulu enggan mengurusi tetek bengek yang berhubungan dengan proyek. Ribet, ah. Biar orang lain saja yang mengurusi masalah itu. Saya cukup mengurusi masalah teknis pengerjaan proyeknya sendiri. Namun, setelah saya coba untuk mengatasi kemalasan tersebut, ternyata mengurus proyek itu asyik juga. Banyak ketegangan yang memicu adrenalin dan kepuasan yang memuncak kala semua urusan akhirnya beres. Administrasi proyek kantor saya pun sedikit demi sedikit membaik.

Ketiga, ehm, masalah kebugaran. Saya dulu sangat senang bermain basket, meskipun nyaris tidak pernah ikut kejuaraan. Sekadar hobi saja. Sewaktu mahasiswa, sehari mungkin saya bisa enam jam lebih nongkrong di lapangan basket ITB. Masuk kuliah sekadar hiburan. Sejak mulai bekerja, saya jadi jarang berolahraga. Alasannya klasik: tidak punya waktu. Kebugaran saya menurun drastis dan sempat ada saat sewaktu saya sering sekali sakit. Menyebalkan! Atas alasan itu, saya memutuskan untuk menghilangkan batasan waktu saya dan mendaftar di suatu pusat kebugaran (fitness center) di Jakarta. Dalam tempo dua bulan sejak mendaftar dan dengan frekuensi olahraga dua kali seminggu, kebugaran saya pulih. Alhamdulillah, kini saya hampir tidak pernah sakit. Setelah mulai nyaman, saya pun mulai mengembangkan batas fisik saya. Saya selalu meminta pelatih pribadi (personal trainer, PT) saya untuk menambah beban yang saya angkat hingga batas gemetar saya. Eh, bisa, loh!

Dari semua pengalaman tersebut, saya pikir tidak mustahil untuk melampaui (beberapa) batas kemampuan kita. Setelah saya ingat-ingat, modal pertama adalah motivasi. Cari dulu motivasi yang kuat untuk dapat melampaui batas kita. Motivasi ini selanjutnya akan melahirkan semangat dan gairah (passion). Kedua hal ini membuat upaya apa pun terasa lebih ringan.

Sekarang, saya sedang berupaya melampaui batas saya yang sejak dulu menjadi onak dalam daging: perlu merokok kala berpikir. Menulis blog ini pun saya lakukan sambil merokok. Duh.

Salam zuper!

Sumber gambar: Goodreads

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

4 Responses to Batas

  1. Bang Dje mengatakan:

    Berhenti merokok termasuk tantangan terbesar, karena seperti bertempur melawan diri sendiri. Mungkin motivasi terkuat adalah agar dapat menaklukkan diri sendiri. Agar akal dan hati menjadi nahkoda atas diri kita. Agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu sendiri.
    Bila berhasil melakukannya kita seperti menemukan dunia baru dengan cara pandang yang sangat berbeda. Maksudnya, kita tetap berada di dunia yang sama, tetapi kita akan memandangnya dengan cara yang sama sekali berbeda. Perbedaan cara pandang yang tidak mungkin diceritakan dan harus dialami sendiri. Benar-benar melampaui batas dan melampaui apa yang pernah kita bayangkan.
    Dan saya telah berhasil melampaui batas itu.

  2. Sufren mengatakan:

    sempat ada saat sewaktu saya sering sekali sakit.

    sepertinya “saat” dan “sewaktu” bisa digunakan salah satu saja

    lah, malah komentar penulisan, hehe.. btw, tulisan ini benar adanya.. manusia punya keterbatasan, tetapi jangan sampai menciptakan batasan utk dirinya sendiri

  3. Eva mengatakan:

    Have a good day yah …

  4. Knalpot Creampie Jogja mengatakan:

    artikelnya dalem,,,wawasan diri yang penuh makna,,,thanks artikelnya mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: