Gurih

Mitos peta rasa: (1) pahit, (2) asam, (3) asin, dan (4) manis.

Gurih adalah salah satu dari lima rasa dasar, bersama dengan manis, asam, asin, dan pahit. Secara kimiawi, rasa gurih ditimbulkan oleh asam amino glutamat dan ribonukleotida yang terkandung dalam berbagai jenis makanan, termasuk daging, ikan, sayur, dan produk susu. Dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa lain seperti bahasa Prancis dan Spanyol, jenis rasa ini disebut umami, serapan dari bahasa Jepang. Kata gurih yang kita pakai untuk menggambarkan konsep umami ini berasal dari kosakata bahasa Jawa yang bermakna “enak rasanya”.

Sejak zaman Demokritos, umat manusia hanya mengenal empat rasa dasar. Profesor Kikunae Ikeda dari Universitas Imperial Tokyo, Jepang mendobrak pemahaman ini pada tahun 1908 dengan mengenalkan umami (うま味), istilah yang diambil dari dari umai (うまい) ‘lezat’ dan mi (味) ‘rasa’. Pada tahun 1985, Simposium Internasional Umami I di Hawaii secara resmi mengakui umami sebagai istilah ilmiah untuk menggambarkan rasa glutamat dan nukleotida. Rasa umami dapat dikecap oleh semua kuncup rasa (taste bud) manusia.

Penemuan rasa gurih juga menguatkan kekeliruan konsep “peta rasa” (tongue map atau taste map). Konsep ini, yang digambarkan pada gambar di atas, menyatakan bahwa tiap bagian lidah secara eksklusif bertanggung jawab terhadap satu jenis rasa. Berbagai penelitian mutakhir ternyata menunjukkan bahwa semua rasa dapat dikecap oleh semua bagian lidah, meskipun ada bagian yang lebih sensitif terhadap suatu jenis rasa.

Selain lima rasa dasar tersebut, ada dua rasa lain yang dapat dikenali oleh indra pengecapan kita, yaitu pedas (spicy atau piquance) dan kelat (astringent). Sebagai orang Minang, sabananyo ambo heran, baa kok biso padeh indak dianggap raso dasar?

Tambahan rujukan ilmiah tentang mitos taste map dari Om Boy: LiveScience dan Scientific American.

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

6 Responses to Gurih

  1. Pak Guru mengatakan:

    Kalau gak salah di Wikipedia Pusat sempat ada perang saudara, apa umami harus dinamakan “umami” atau menggunakan bahasa lokal “savoury“. 🙂 Awalnya opsi pertama yang diambil, walau saya cek setahun lalu sempat kalah dan “savoury” dianggap mampu menggantikan. Sekarang kayaknya kembali ke “umami”.

    Soal rasa dasar, kata “spicy” juga sering membuat masalah antar-budaya. Di sini kelihatannya disamakan dengan “pedas”, yang lebih akuratnya adalah “piquance” (CMIIW). Kadang ada bulé yang berkomentar “Masakan Indonesia itu spicy,” kemudian dibantah oleh pribumi “Ah gak! Masakan Jawa malah banyak yang cenderung manis!” Padahal kemungkinan yang dimaksud adalah kaya bumbu dan berempah, bukan mesti pedas.

  2. tari mengatakan:

    waduh kalau seperti ini menjadi masalah baru lagi untuk dunia pendidikan, dimana konsep “peta rasa” sudah mengakar dari pendidikan paling dasar.

  3. Pulau Tidung mengatakan:

    Manis-manis asam ada lagi, namanya lejar..

  4. aryanto,SE mengatakan:

    cold weather so much fun to read and read helpful information like this before, thanks for the information 🙂

    obat kanker payudara

  5. Pambudi agung mengatakan:

    Habis makan gorengan, coba makan pisang biar tenggorokan kalis

  6. Pambudi agung mengatakan:

    Kata kalis itu artinya apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: