Karut-marut

Dari salah satu milis saya mendapat berita tentang The Raid (atau Serbuan Maut), film laga (atau “film eksyen” menurut Antara) Indonesia yang belakangan sedang mendapat perhatian dunia internasional. Yang menarik perhatian saya pada berita dari milis tersebut adalah kutipan berikut:

“… diantara carut marutnya kehidupan kriminalitas dan korupsi di Jakarta …”.

Oke, “di” dan “antara” memang seharusnya dipisah, tetapi kita sudah bosan membahas masalah itu toh? Perhatikan kata “carut marut”. KBBI mencantumkan entri “carut-marut” (dengan tanda hubung) dengan makna “n (1) bermacam-macam perkataan yg keji; (2) segala coreng-moreng (bekas goresan); goresan yg tidak keruan arahnya” sebagai sublema dari dua homonim “carut“: “(1) a keji, kotor, cabul (tt perkataan); (2) n luka bekas goresan”. Jadi, apakah kalimat dalam berita tersebut menggambarkan “perkataan yang keji” atau “coreng-moreng” kehidupan kriminalitas di Jakarta?

Tentu bukan makna ini yang dimaksud, meskipun mungkin makna “coreng-moreng” bisa saja sesuai. Makna yang dimaksud di sana, saya pikir, adalah kekusutan atau keruwetan dan kata yang tepat untuk dipakai di sana sebenarnya hanya berbeda satu huruf, yaitu “karut-marut“. Kata ini bermakna

a (1) kusut (kacau) tidak keruan; rusuh dan bingung (tt pikiran, hati, dsb); banyak bohong dan dustanya (tt perkataan dsb); (2) berkerut-kerut tidak keruan (tt muka, wajah, dsb)”

yang dibentuk dari kata dasar “karut“: a kusut; kacau tidak keruan. Karut-marut dibentuk melalui perulangan salin suara (berubah bentuk), sama seperti “warna-warni” atau “bolak-balik”, dan karena itu perlu diberi tanda hubung.

Kesalahan diksi “carut-marut” alih-alih “karut-marut” ini entah mengapa sangat sering dijumpai. Apakah karena lebih enak melafalkan huruf “c” daripada “k”? Tidak juga, kan?

Saya jadi kepingin nonton filmnya. Om Benceh sudah buat resensinya belum, ya?

Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia

11 Responses to Karut-marut

  1. kunderemp says:

    Sudah menonton di INAFFF kemarin dan menulis resensinya di IMDB (resensi kelima). Sayang, Bahasa Inggris saya acak-acakan. Maklum, menulis di notepad di dalam perjalanan pergi ke kantor di Metromini.

  2. Winnu Ayi says:

    Ow… karut-marut dan carut-marut. Nampak 11-12. Tidak jauh beda. Baru tahu malah. 🙂

  3. Ben says:

    Belum nonton, Om 😀

  4. Mirip dengan pasca yang sering dibaca paska

  5. Ping-balik: Namja – Part 3 | bibibfanfiction

  6. Ping-balik: Namja – Part 3 « SHINee Fan Fiction From SHAWOLINDO

  7. Hendro Cahyono says:

    Apa ada pemakaian “sama seperti”? Menurut saya “sama dengan”. Tidak ada satu ditambah satu seperti dua, ‘kan? Kata “seperti” itu tidak sama maknanya dengan “sama”. Oya, saya sering mengamati pemakaian “namun”, “tapi” dan “tetapi”, “dan” yang berdiri sendiri dalam paragraf baru. Menurut saya tidak perlu, bahkan berlebih-lebihan. Mestinya masih dalam satu bagian dari kalimat. Maaf, saya awam dalam ilmu bahasa Indonesia, namun saya bangga berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: