Sepakat untuk tidak sepakat

Foto: Antara

Pada hari Jumat (12 Agu 2011) yang lalu, Kantor Berita Antara dan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) menyelenggarakan diskusi bahasa bertopik “Diskusi Bahasa Duduk Perkara istilah ‘Cina’: Berbagai Pandangan dan Pilihan Lain” di Wisma Antara. Acara yang dimoderatori oleh T.D. Asmadi tersebut menghadirkan empat pembicara: (1) wakil Kedutaan Besar Cina (Wang Peijun, kalau tidak salah); (2) wakil Kementerian Luar Negeri Indonesia (Gorie Arifianto, kalau tidak salah); (3) wakil Badan Bahasa (Abdul Gaffar Ruskhan); (4) Remy Silado, budayawan.

Secara garis besar, berikut ini pokok-pokok pikiran dari para pembicara. Kedubes Cina menyarankan (tidak memaksa) untuk tidak menggunakan istilah “Cina” karena istilah ini digunakan oleh Jepang terhadap Cina pada saat perang dengan konotasi negatif. Kemenlu sedang mempertimbangkan untuk menggunakan satu istilah yang konsisten, yaitu “Tiongkok”. Abdul Gaffar Ruskhan mengatakan bahwa istilah “Cina” sudah lazim digunakan dalam masyarakat Indonesia dan tidak bermakna peyoratif. Remy Silado memaparkan sejarah dan berbagai penggunaan kata “Cina” dalam bahasa Indonesia.

Diskusi ini merupakan salah satu contoh dari beberapa masalah kebahasaan kita yang belum “putus”. Belum ada satu konsensus pasti tentang mana istilah yang baku: Cina, China, Caina, atau Tiongkok? Tentu saja ketidakseragaman ini berpotensi “membingungkan” para pengguna bahasa, meskipun ada pendapat bahwa bahasa tidak harus seragam. Gajah berjuang lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah.

Saya tidak akan menambah bingung. Silakan pilih “Cina” atau “Tiongkok”. Pilih “Cina” kalau Anda tidak terlalu percaya dengan makna peyoratif kata itu dan ingin taat asas dengan istilah-istilah lain seperti “pecinan” dan “pondok cina”. Pilih “Tiongkok” jika Anda ingin bertenggang rasa dengan pendapat sementara kalangan bahwa istilah “Cina” bermakna merendahkan. Yang jelas, jangan pakai “China” atau “Caina” karena kedua istilah tersebut tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa kita. Saya sendiri akan tetap menggunakan kata “Cina” selagi belum ada larangan resmi dari Kedubes Cina atau imbauan pembakuan resmi dari Kemenlu RI.

Sekali lagi terbukti bahwa bahasa bukanlah “ilmu pasti”. Selalu ada unsur rasa yang berperan dalam penggunaan bahasa. Masalah rasa ini cukup pelik karena sifatnya yang subjektif, meskipun kesubjektifan tersebut dapat dikurangi dengan memberi dasar rujukan. MHS (menurut hemat saya, IMHO), kita dapat sepakat untuk tidak sepakat dalam masalah bahasa, asalkan masing-masing punya dasar yang cukup kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mari tumbuhkan kebiasaan untuk mencari dan memberi rujukan terhadap pendapat kita. Lebih sulit daripada sekadar “ngecap”, tapi bukan tidak mungkin dilakukan.

Rujukan:

  1. Rosidi, A. (2010, Juni 10). Cina dan China. Pikiran Rakyat.
  2. Ruskhan, A.G. (2011). Ihwal Istilah Cina dan ChinaDiskusi Bahasa Duduk Perkara istilah “Cina”: Berbagai Pandangan dan Pilihan Lain, 12 Agustus 2011, Jakarta
  3. Silado, R. (2011). Bukan China, tapi Cina, Diskusi Bahasa Duduk Perkara istilah “Cina”: Berbagai Pandangan dan Pilihan Lain, 12 Agustus 2011, Jakarta.
  4. Sutami, H. (2008, Juni 23). Wong Chino. Majalah Tempo.
Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

13 Responses to Sepakat untuk tidak sepakat

  1. Cahya says:

    Saya pernah membaca sebuah buku lama ilmu bumi yang masih menggunakan ejaan Soewandi, dan di sana tidak ada kata Cina (Tjina) disebutkan, namun alih-alih sebuah negeri yang bernama Tiongkok, dan saya tidak tahu bagaimana itu kemudian bisa beralih, apakah karena adanya istilah Republik Rakyat Cina.

  2. Asop says:

    Yaaaaaaaay! Berarti selama ini keputusan untuk menggunakan “Tiongkok” benar adanya. Ini berkat tulisan-tulisan Pak Dahlan Iskan di harian Jawa Pos yang rutin saya baca. 😀 😀 😀

    Beliau, yang sering bolak-balik ke Tiongkok untuk urusan pekerjaan dan bisnis, selalu menggunakan Tiongkok untuk menyebut negara RRC. 🙂

  3. Romi says:

    Aku sih setuju sama pak 23761. Kecuali kalau menyebut nama panjang negaranya dalam surat resmi 😀

  4. Sufren says:

    Cina itu kan nama negara. Kalau ingin menyebut negara, sebaiknya Cina saja. Sementara, kalau ingin menyebut orang keturunan Cina yang lahir di Indonesia, lebih baik menggunakan kata Tionghoa.

  5. Bang Dje says:

    Dalam Bahasa Inggris, setahu saya, digunakan istilah China untuk menyebut negara Cina dan Istilah Chinesse untuk menyebut Orang Cina. Lalu Negara Cina sendiri secara resmi memakai istilah yang mana untuk menyebut dirinya sendiri di forum resmi internasional?
    Saya terbiasa menggunakan istilah Cina tanpa ada maksud merendahkan.

  6. neneng says:

    Saya rasa pembuat kebijakan berita di stasiun-stasiun TV nasional yang masih menggunakan China (Caina) harus segera menginstruksikan pembaca beritanya untuk kembali melafalkan Cina. Jangan mentang-mentang ada pesan sponsor dari Kedubes Cina yang menyatakan kalau pelafalan “Cina” itu penghinaan. Toh kita sebagai orang Indonesia tidak bermaksud menghina, kan?

  7. echa says:

    Untuk orang, sebaiknya tetap menggunakan istilah Tionghoa. Memang pada zaman sekarang tidak ada yang memaksudkan penyebutan Cina untuk menghina atau merendahkan. Bagi generasi yang lebih muda, kata ini juga sangat jarang bahkan mungkin sama sekali tidak menimbulkan perasaan yang demikian (kecuali ada sejarah keluarga yang buruk berkaitan dengan kata itu). Bisa dibilang masalahnya terletak pada “luka sejarah”. Para pembaca/pendengar warga keturunan yang berusia 50 tahun ke atas, mengalami masa-masa ketika istilah tersebut digunakan untuk menuding mereka dengan nada menghina. Bukankah untuk komunikasi publik kita sebaiknya berorientasi pada audiens ketimbang preferensi kita? ^_^
    Setidaknya dalam menggunakan kata tersebut, pertimbangkan siapa audiensnya.

  8. albertpratama says:

    Maaf sedikit OOT.

    Kutip:
    “Pilih “Tiongkok” jika Anda ingin bertenggang rasa dengan pendapat sementara kalangan bahwa istilah “Cina” bermakna merendahkan.”

    Yang betul “sementara kalangan” atau “sebagian kalangan”?

  9. hahn says:

    jadi teringat ketika masih kerja di grupnya pak dahlan 😀
    harus pake kata Tiongkok untuk menyebut negara CIna 😀

  10. kenzie says:

    Aku lagi riset dan ketemu artikel ini. Penjelasan yang bagus tapi aku tidak sepakat, setidaknya dengan bagian ini, terutama pemakaian “China”.
    “Yang jelas, jangan pakai “China” atau “Caina” karena kedua istilah tersebut tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa kita.”

    Menurut aku, kita sudah salah kaprah dalam penulisan nama-nama negara dan organisasi. Jika kita bisa memakai nama yang diinginkan satu bangsa yang berdaulat, sebaiknya kita memakai nama itu (ini berarti “Tiongkok”). Jika tidak, kita sebaiknya memakai kata yang disepakati secara internasional (ini berarti “China”). Di dunia internasional, mereka menyebut diri mereka sebagai “People’s Republic of China”. Itu juga kenapa kita dulu tidak suka negara Indonesia disebut “Nederlandsch-Indië” atau “Hindia Belanda”. Bagaimana jika nama “Indon” digunakan secara resmi di Malaysia dan Singapura (aneh, nama negara ini juga “diterjemahkan”) atau negara lain?

    Yang lebih parah adalah penggunaan nama berdasarkan pengucapan. Kita menamakan Maldives dengan Maladewa, New Zealand dengan Selandia Baru. Singapore dengan Singapura, Pemakaian nama seperti ini akan ahistoris dan membingungkan. Bayangkan orang Inggris menulis Brother’s Land (Tanahabang), Golden Water (Banyumas), Holly city (Kudus)… dst

    Di sini juga kita masih menemukan orang menuliskan nama dengan menerjemahkannya. WHO kadang disebut Organisasi Kesehatan Dunia (OKD?) ada juga Badan Kesehatan Dunia (BKD?), UCLA menjadi Universitas Kalifornia di Los Angeles (mengapa tidak sekalian menjadi Universitas Kalifornia di Kota Malaikat… hahaha). Di sisi lain, kita tidak [boleh] menerjemahkan, misalnya, IBM menjadi Mesin Bisnis Internasional (MBI), FIFA menjadi Federasi Sepakbola Internasional (FSI).

    Dan sebagainya.

    Nama seperti halnya merek sebaiknya ditulis seperti aslinya karena itu menunjukkan identitas.
    Jadi, aku tidak sepakat dengan Anda yang mendorong penggunaan nama berdasarkan kaidah “penyerapan”, yang sejauh ini menjadi salah satu kaidah yang paling tidak konsisten di Bahasa Indonesia.
    Dalam kasus Cina dan China, jika Anda tidak “mau” mendengarkan permintaan sebuah bangsa yang berdaulat untuk memakai nama yang layak dan mereka inginkan, Anda sebaiknya memakai nama yang dipakai secara internasional.

    Salam.

  11. Ping-balik: Mengapa kini disebut Tiongkok - Tayangin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: