Komputasi sarwega

Dalam bahasa Inggris, kata sifat (adjektiva) ubiquitous bermakna “ada di mana-mana” dan merupakan sinonim dari kata omnipresent. Menurut Online Etymology Dictionary, kata ini pertama kali dipakai pada tahun 1837 dan dibentuk dari ubiquity + -ous. Kata benda (nomina) ubiquity sendiri berasal dari bahasa Latin ubique yang bermakna “di mana-mana”. Salah satu penggunaan awal kata ubiquitous ditemukan dalam karya terkenal Herman Melville, Moby Dick (1851).

One of the wild suggestions referred to, as at last coming to be linked with the White Whale in the minds of the superstitiously inclined, was the unearthly conceit that Moby Dick was ubiquitous; that he had actually been encountered in opposite latitudes at one and the same instant of time.

Kata ini belakangan banyak dipakai dalam konsep-konsep modern seperti ubiquitous computing, ubiquitous learning, ubiquitous city, dll. Semua konsep itu kurang lebih menggambarkan keberadaan sesuatu di mana-mana atau kemudahannya untuk diakses karena dapat ditemukan di mana-mana. Lantas, apa kira-kira padanan ubiquitous yang ringkas dan unik dalam bahasa Indonesia?

Pertanyaan saya ke milis penerjemah Bahtera membuahkan hasil: cukup banyak masukan saran padanan seperti lazim, jamak, lewah, ubikuitas, serak, buyatak (Su), rebak, (pa)balatak (Su), ngalayah (Su), lacak, jebah, jelempah, talayah (Kawi), dan puraka (Kawi). Usul yang paling sreg bagi saya datang dari Pak Baty dan Bu Daisy, yaitu sarwega. Kata ini mereka temukan dalam kamus bahasa Kawi Zoetmulder dan bermakna “hadir di mana-mana”. Kang Herman menguatkan makna kata ini dengan memberikan keterangan bahwa dalam kamus bahasa Sanskerta-Inggris Monier-Williams juga terdapat entri sarvaga (diduga merupakan asal kata sarwega) yang bermakna “all pervading, omnipresent”.

Kata sarwega cukup enak dan mudah dilafalkan oleh lidah Indonesia. Usul entri pada kamus adalah sebagai berikut.

sar·we·ga /sarwéga/ adj ada di mana-mana (pada satu waktu): banyak agama yang memercayai bahwa Tuhan adalah –;
ke·sar·we·ga·an n sifat sarwega; keberadaan di mana-mana: ~ udara merupakan karunia Tuhan bagi manusia

Lega rasanya mendapat padanan yang cukup enak untuk ubiquitous ketimbang harus menyerapnya menjadi ubikuitas atau ubikuitus.

Jadi, komputasi sarwega (ubiquitous computing) selanjutnya dapat kita masukkan ke dalam Wikipedia Indonesia sebagai model interaksi manusia dan komputer yang telah mengintegrasikan pemrosesan informasi secara menyeluruh ke dalam objek dan aktivitas sehari-hari. Dalam praktiknya, seseorang yang menggunakan komputasi sarwega dapat menggunakan berbagai perangkat dan sistem komputer secara simultan, bahkan tanpa menyadarinya—berbeda dengan cara penggunaan komputer secara “sadar” yang umum dilakukan saat ini. Mesin dalam komputasi sarwega diselaraskan dengan lingkungan sehari-hari manusia dan tidak sebaliknya: memaksa manusia menyesuaikan dengan mesin.

Suatu impian yang bukan tidak mungkin terwujud tidak lama lagi!

Pembaruan (31/12/2010): Setelah dibaca ulang oleh Pak Baty, ejaan menurut Kamus Zoetmulder adalah “sarwaga”, bukan “sarwega”. Lalu, ada tanggapan di laman Facebook dari Ali Sophian bahwa kalangan TI Indonesia juga banyak menggunakan istilah “komputasi pervasif” dari padanan istilah bahasa Inggrisnya, “pervasive computing”.

Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia

3 Responses to Komputasi sarwega

  1. Pambudi says:

    Wah.. Makasih ceritanya.

  2. Google Sport says:

    Terima kasih ya infonya dari blog anda..

  3. Wah tulisannya kelas dewa nih,
    Makasih ya atas pencerahannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: