Petambang

Sewaktu memberitakan kecelakaan pertambangan Copiapó 2010, harian KOMPAS menggunakan istilah “petambang” untuk menyebut 33 orang pekerja tambang (bahasa Inggris: miner) yang terperangkap selama lebih dari dua bulan di bawah tanah selama kejadian itu.

Eh, petambang? Aneh. Tampaknya baru KOMPAS yang menggunakan kata petambang dan bukan penambang. KBBI Edisi IV pun tidak memuat entri petambang. Yang ada hanya sublema penambang di bawah lema tambang (hlm. 1387) dengan makna orang yang menambang (tentang emas dsb).

Dalam kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia, memang dikenal dua awalan pembentuk nomina yang mirip, yaitu per- dan peng-. Yang pertama dikaitkan dengan bentuk verba berawalan ber-, sedangkan yang kedua dikaitkan dengan awalan meng-. Belum lama berselang, pada harian yang sama, Pak Anton Moeliono menjabarkan perbedaan keduanya dengan contoh konkret: perubahan dan pengubahan. Jika mengikuti kaidah formal, maka proses pembentukan seharusnya adalah sebagai berikut.

menambang → penambang

bertambang (?) → petambang (?)

Bentuk petambang, jika ada, seharusnya dibentuk dari verba bertambang. Masalahnya, bentuk bertambang tidak ada dalam KBBI. Jadi, jika sesuai kaidah, bentuk petambang itu yatim: tidak punya induk.

Saya pun melemparkan masalah ini ke milis guyubbahasa. Hebat! Ada 42 balasan terhadap utas diskusi ini. Secara umum semua membenarkan logika morfologi seperti di atas. Namun, ada satu tanggapan dari Pak Yanwardi yang sangat menarik menyangkut “gejala bahasa” ini. Atas izin beliau, berikut saya lampirkan tulisannya.

Beberapa bulan yang lalu (juga tahun-tahun sebelumnya) topik sejenis ini telah didiskusikan di sini. Memang, ada perkembangan sejalan dengan perkembangan bahasa Indonesia. Di sisi lain, pendekatan tata bahasa juga mengalami perkembangan.

Penjabaran yang dilakukan Pak Anton (juga pernah dilakukan Pak Hari) tampak menggunakan pendekatan formal, yakni model proses (item and process model, yang dicetuskan oleh Charles Hockett pada tahun 1950-an). Verba di sini dianggap menurunkan  nominanya, dalam bahasa Indonesia lebih spesifik per-D dari ber-D dan pe(N)-D dari me(N)-D-/-kan/-i (awalan per-: petinju-bertinju; petani-beternak; petambak-bertambak; pekebun-berkebun; petualang-bertualang, awalan pe(N)-: pembunuh-membunuh; pembeli-membeli; peninju-meninju; peninjau-meninjau, dll). Pendekatan formal sangat memperlihatkan ketertiban dan kecermatan.

Akan tetapi, kadang-kadang kita kurang bisa menjelaskan kenyataan pemakaian bahasa dengan menggunakan pendekatan tersebut. Terlebih lagi, seiring dengan perkembangan zaman yang tentunya mengena pula pada bahasa. Bentuk “petambang” benarkah diturunkan dari “bertambang”, alih-alih “menambang”? Yang lebih rumit pendekatan formal ini sulit menjelaskan bentukan dari cabang-cabang olah raga, umpamanya, “peterjun” dan “petembak” dari, secara berurutan, verba “beterjun” dan “bertembak” -kah? Tentu tidak.

Sebaliknya, bentuk “penari” dan “penulis” jelas berkaitan dengan “menari” dan “menulis”, bukan “bernari” dan “bertulis”?

Pendekatan fungsional (lingustik pragmatik dan kognitif), yang mulai muncul secara “nyata” tahun 1989, untuk kasus ini, hemat saya, lebih bisa menjelaskan kenyataan pemakaian bahasa dengan lebih komprehensif. Bentuk, seperti “petembak”, “peterjun”, “petambang”, pebisnis, pesinetron, pebalap, dll,menurut saya merupakan hasil dari pendekatan fungsional, yakni analogis. Lepas dari bentukan nomina itu ada bentuk verbanya atau tidak. Pendekatan ini lebih mengutamakan penataan makna yang ada dalam kognisi (pikiran) para penutur bahasa. Karena dia tahu ada bentuk “petinju” dalam benaknya yang bermakna a, misalnya, dia menerapkan pola yang sama pada bentuk sejenisnya. Keterterimaan bentuk yang dihasilkan melalui model ini akan diuji oleh penutur lainnya. Jika diterima, bentuk “petambang”, umpamanya, akan terus hidup.

Terakhir, agar tidak disalahtafsirkan, tulisan saya ini dijabarkan bukan untuk diaplikasikan, melainkan hanya untuk menjelaskan gejala bahasa dari sisi kebahasaan.

Ah. Sekali lagi, bahasa memang bukan ilmu pasti™.

Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia

11 Responses to Petambang

  1. Ping-balik: Tweets that mention Petambang « nan tak (kalah) penting -- Topsy.com

  2. hedi says:

    Kompas juga pake sebutan “pebalap” ketimbang “pembalap” 🙂

  3. Eko says:

    Terkadang bahasa sendiri suka terlihat aneh..

  4. Ping-balik: Pebalap atau Pembalap? « Obrolan Teras

  5. aRuL says:

    Jadi kalo dikatakan menerima gejala bahasa, berarti saya masih menerima penambang ketimbang petambang 😀 hehe entah kalo orang lain 😉

  6. raviyanto says:

    Halo, salam kenal:)

  7. raviyanto says:

    Yang benar menurut kaidah tata bahasa adalah “penambang” bukan “petambang”. Istilah “petambang” adalah istilah selingkung yang digunakan redaksi Kompas. Istilah itu digunakan untuk kata yang bermakna “yang berprofesi sebagai…”. Jadi, “petambang” berarti “yang berprofesi sebagai penambang”. “pebalap” di sini berarti “orang yang berprofesi sebagai pembalap”. Ini analogi dari “petinju” yang bermakna “orang yang berprofesi sebagai peninju”.

    Kalau koran Kompas memakai istilah “pebalap”, koran Sindo memakai istilah “pembalap”. Jadi, kata “pebalap” hanya digunakan di Kompas. Sama seperti juga Kompas menggunakan istilah “China” dengan tambahan huruf “h”. Padahal sebelumnya atau pada umumnya istilah yang digunakan adalah “Cina”. Jadi, menurut saya, itu hanya kebijakan di lingkungan redaksi Kompas.

  8. Redyka94 says:

    Nah, kalau bertanya -> penanya (bukan petanya), itu bagaimana?

  9. Haqi K. says:

    Para editor umumnya bersepakat untuk membatasi makna dan penggunaan pe- untuk menyebut profesi (petinju, pesuruh). Adapun penggunaan pe(N)- dibatasi untuk kegiatan (peninju, penyuruh). Jadi, asal-usul pola bentukan morfologisnya diabaikan karena toh bentukan ini tidak konsisten (berubah-ubah sesuai dengan kata yang melekatinya). Saya rasa ini lebih aman dan pejelasannya pun lebih singkat dan mudah dipahami.

  10. nasrullah nara says:

    bahasa itu dinamis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: