Penggapaian

ist2_9494420-reaching-hand Telah cukup lama saya mencoba mencari padanan bahasa Indonesia yang pas untuk outreach. Istilah ini banyak digunakan oleh organisasi atau kelompok sosial–seperti LSM dan orsospol–untuk menyebut keterlibatan mereka dalam masyarakat dalam rangka penyebaran ide kepada publik. Kegiatan ini galibnya dilakukan melalui pendidikan (penyebarluasan ide), meskipun belakangan banyak organisasi yang menerapkan strategi outreach mereka dalam bentuk pelibatan dua arah, alih-alih hanya sekadar kegiatan satu arah. Strategi outreach terkait erat dengan misi suatu organisasi dan beberapa organisasi bahkan menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu hal yang diperhatikan secara khusus–misalnya spreadfirefox dari Mozilla dan outreachwiki dari Wikimedia.

Istilah penggapaian–yang belum tercantum dalam KBBI III–saya usulkan sebagai padanan dari kata benda outreach, yang diturunkan dari kata kerjanya, menggapai: to outreach. Dalam bahasa Indonesia, kata menggapai memiliki makna sebagai berikut.

meng·ga·pai v 1 mengulurkan tangan hendak mencapai (memegang, mencari pegangan, dsb) menggapai-gapai: anak itu berusaha ~ meja dng tangan kirinya; 2 ki meraih, menyampaikan (maksud, cita-cita, dsb): berkali-kali gagal tidaklah mematahkan semangatnya untuk ~ cita-citanya;

Menurut saya, makna keduanya–meraih atau menyampaikan (maksud, cita-cita, dsb)–cukup sesuai dengan makna outreach. Makna pertamanya pun–mengulurkan tangan hendak mencapai–cukup selaras nuansa maknanya.

Saya teringat lagi dengan konsep penggapaian ini sewaktu sempat berbincang dengan Jeng Ina di Salihara. Dia sempat mengemukakan kesedihan atas sedikitnya pengunjung acara yang diadakan Salihara, meskipun menurutnya acara-acara tersebut bermutu seni tinggi dan relatif tidak mahal; bahkan ada beberapa acara yang gratis.

Dalam obrolan sambil santap siang di kantin Salihara, beberapa ide sempat terlontar tentang bagaimana meningkatkan pengunjung acara-acara Komunitas Salihara. Beberapa coba saya tuangkan di bawah ini agar tidak lupa.

  1. Buatlah kunjungan ke Salihara menjadi suatu tren gaya hidup bagi kaum muda Jakarta yang haus hiburan dan tempat yang mengasyikkan. Salihara punya modal yang cukup untuk itu: lingkungan yang asri, kafe yang nyaman, serta bangunan yang berseni.
  2. Ajaklah beberapa selebriti atau pesohor untuk menjadi semacam “Duta Salihara”. Hal ini dapat mendorong lebih banyak orang untuk berkunjung ke sana. Saya yakin banyak pekerja “seni” film yang bersemangat untuk menyandang gelar “Duta Salihara” ini.
  3. Manfaatkan jejaring sosial dengan lebih aktif. Jangan puas dengan 400-an pengikut di Twitter dan 2300-an penggemar di Facebook. Jumlah itu terlalu sedikit bagi Salihara!

Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang menghargai budaya, khususnya seni dalam hal ini. Jika semakin banyak orang Indonesia yang menjadi penikmat seni–musik, sastra, rupa, sinema, tari, maupun teater–niscaya akan semakin maju pula bangsa kita.

Saya dan Jeng Ina sebenarnya bukan pakar dalam bidang ini. Mungkin ada baiknya untuk minta nasihat kepada Om Nukman dan Mbak Iim, Pitra, atau Ramya tentang apa yang perlu dilakukan untuk menggapai khalayak yang lebih luas. Sementara itu, selagi belum terlalu sesak oleh pengunjung, saya nikmati saja dulu nasi bakar, jus belimbing, dan jaringan nirkabel gratis di Salihara.

Sumber ilustasi: iStockphoto.

Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia

11 Responses to Penggapaian

  1. Fajar Jasmin says:

    Saya kok lebih sreg dengan “penjangkauan”, Van….

    Penggapaian memiliki konotasi bahwa obyek yang hendak dicapai berada di luar jangkauan (“range”) subyek. (Lihat definisi “menggapai” no.1). Tepi meja adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan anak tersebut.

    Sedangkan “outreach” seringkali dipakai untuk aktivitas yang sifatnya menjemput bola. Dalam hal ini, rasanya “penjangkauan” lebih menangkap maknanya karena obyek yang hendak dicapai langsung bersentuhan dengan subyek; tidak seperti menggapai yang seringkali belum jelas apakah akan berhasil teraih atau tidak.

    Tapi, jangan dicampuradukkan dengan tujuan outreach itu sendiri. Tujuan (“goal”) kegiatan outreach belum tentu tercapai. Contoh: penyebaran informasi kepada publik belum tentu membuat publik lebih melek pengetahuan dengan efektif.

    Alih-alih, yang saya maksud adalah dalam hal ini penyelenggara acara sebagai subyek pelaku “bersentuhan” dan berinteraksi langsung dengan audiens sebagai obyek. Dus, saya lebih condong ke “penjangkauan” daripada “penggapaian”

    Gimana? Hehehehe….

    • Ivan Lanin says:

      Masalahnya, “menjangkau” sudah dipadankan dengan “reach”, Jar. Jadi gak unik. Padahal tujuan diberikan awalan out di sana, IMHO, adalah utk membedakan dgn reach.

      Mengenai jangkauannya, saya justru berpendapat bahwa objeknya itu memang di luar dari Sang Subjek. Hehe, mungkin baiknya kita sepakati dulu definisi outreach-nya, baru setelah itu dicari padanannya. Kalau gak salah istilah ini kan juga digunakan oleh pihak gereja. Coba tanya deh, mereka lebih sreg yg mana?

  2. Ping-balik: Tweets that mention Penggapaian « nan tak (kalah) penting -- Topsy.com

  3. Fajar Jasmin says:

    Betul, Van….

    Tapi justru itu. “Menjangkau” memang selaras dipadankan dengan “to reach”. “Outreach” memperoleh perbedaan dari “reach” dengan awalan “out”, saya setuju. Masalahnya pembedaan yang dibubuhkan ini IMHO lebih bersifat ke pembedaan kelas kata (dua nomina berbeda dari konotasi yang sama); dibanding dengan pembedaan definisi.

    Gini maksud saya. Di bahasa Inggris, “to reach” adalah “menjangkau”. Sementara “outreach” adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka menjangkau (“to reach”) itu sendiri. Perbedaannya adalah di kelas katanya. “To reach” dapat digunakan sebagai kata kerja aktif transitif, sementara “outreach” digunakan untuk memberi label terhadap kegiatan “reaching” itu sendiri sebagai sebuah entitas. Nomina standar dari “menjangkau”, -yaitu “jangkauan” (=”reach”), tak dapat digunakan untuk hal ini; karena ia memiliki definisi yang sama sekali berbeda.

    Jadi dalam hal ini, saya rasa pemadanan “menjangkau” dengan “to reach” justru menjadi alasan buat kita untuk mencari padanan “outreach” dari sub-set verba yang sama (“to reach”). Karena definisi Inggris-nya sebenarnya masih sangat erat hubungannya.

    Soal gereja, saya sudah lama gak ke sana, Van… Hahahahaha. Tapi gereja memang lebih sering menggunakan “penjangkauan” sebagai padanan “outreach”.

    Tapi itu cuma pendapat gue lho, Van… Sila didiskusikan dengan teman-teman munsyi lainnya… LOL

    • Ivan Lanin says:

      Oke. Penjelasannya cukup masuk akal. Dari etimologinya, aku tadinya berpikir bahwa dua kata ini “reach” dan “outreach” memang sengaja dibedakan agar spesifik [1]. Penjangkauan memang maknanya cukup sepadan dengan penggapaian. Jika kalangan pengguna tradisionalnya (dalam hal ini gereja) sudah biasa menggunakan penjangkauan, baiknya memang jangan diciptakan istilah baru 🙂

      [1] http://www.etymonline.com/index.php?term=outreach

      • zulkifli harahap says:

        Nah, beginilah kita yang muda-muda ini (baik usia maupun pengalaman hidup) seharusnya. Dengan tetap menghargai apa yang telah lazim digunakan berarti kita telah turut berperan serta menyebarkan jerih payah orang lain. Bisa kita bayangkan berapa lama orang-orang gereja bermufakat untuk penggunaan kata ini sebelum resmi mereka gunakan untuk jemaahnya. Apa salahnya kita gunakan jika maksudnya memang sama: gereja menjangkau orang-orang yang terbatas kemampuannya datang ke gereja, para penderita Aids tidak tahu hendak ke mana minta bantuan untuk meringankan penderitaannya. Itulah salah satu tujuan program penjangkauan LSM yang berkaitan dengan Aids.

  4. Harri says:

    tambah lagi satu kata buat digunakan sehari2 😀
    hayo skrg siap2 uas. hoho

  5. devie says:

    kenapa bukan “pencapaian”, Bung Ivan?

  6. Dewi Rainny says:

    Kalau “peraihan?

    Sudah dipakai dalam, misalnya “…peraihan medali emas merosot dibanding Sea Games lalu”?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: