Interaksi

Kartun etika meeting Sabtu siang kemarin saya mengobrol santai dengan ibu saya di sebuah kafe; suatu hal yang belakangan jarang kami lakukan karena kesibukan masing-masing. Beliau bercerita bahwa sewaktu makan siang bersama Widyawati—sambil saya goda, “Cie, makan siang sama aktris ni ye“—beberapa hari yang lalu, beliau mendapat cerita bahwa suasana sewaktu jeda syuting saat ini berbeda sekali dengan dulu: dulu orang-orang akan bercanda gurau sambil kadang bermain kartu bersama, sementara sekarang hampir semua orang akan langsung sibuk dengan peranti genggamnya masing-masing. Keakraban antarpribadi yang terjalin karena tatap muka dan interaksi nyata sewaktu jeda syuting sudah tidak lagi terasa.

Pelan-pelan saya menjauhkan BlackBerry saya yang saat itu masih di genggaman. Tersindir, hehe.

Mama lantas melanjutkan bahwa mungkin hal ini disebabkan karena kini orang makin sedikit punya waktu luang dan karenanya harus memilih kegiatan apa yang hendak dilakukannya pada waktu senggang itu. Dulu, ujar beliau, untuk pergi ke mana-mana lebih cepat dibandingkan sekarang. Cuaca yang semakin panas, kesibukan yang semakin banyak, waktu yang semakin terasa pendek, serta tekanan pekerjaan yang semakin besar semuanya membuat orang semakin butuh hiburan. Menurut beliau, hal itu mungkin yang membuat orang berpaling pada gawai (gadget) setiap ada kesempatan.

Saya pun mengiyakan. Gawai masa kini memang semakin canggih dan menyediakan banyak hiburan. BB saya, misalnya, menawarkan surel untuk dibaca, twit untuk dibalas, foursquare untuk dilapormasukkan, dan berbagai interaksi maya lain untuk dilakukan. Semuanya kadang lebih menarik (dan mudah) dibandingkan interaksi nyata. Saya jadi teringat dengan kartun lucu karya cah ndableg—yang dengan semena-mena dan tanpa izin saya sertakan pada tulisan ini—yang menggambarkan kenyataan itu.

Kami terus berbincang sembari menikmati santap siang, walaupun kadang saya tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik kerlipan merah tanda masuknya pesan baru. Mama pun tampaknya memaklumi.

Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

3 Responses to Interaksi

  1. endhoot says:

    #dampakgengmaya-nya mana?

  2. Bukik says:

    hahahaha
    bahkan saya dengan damai, putri semata wayang, berkomunikasi melalu BBM walau sama-sama dalam kamar
    kacau

  3. Haqi K. says:

    Itulah alasan FB sempat akan ditutup, katanya sih sudah di luar kendali. Manusia kini lebih sering mengurung diri mereka dalam dunia maya, tidak pernah lagi bertegur sapa dan saling berkunjung. Akan seperti apa interaksi manusia sepuluh tahun kemudian jika hal ini terus berlangsung? Bukan tidak mungkin rasio pribadi introverted, cenderung autis, akan melonjak tajam. Apa yang bisa kita lakukan, Mas Ivan?
    Bagaimanapun, silaturahmi secara LIVE harus tetap dijaga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: