Melindungi dan menghargai karya

Minggu sore (10 Jan 2010) saya mengikuti diskusi “sambung rasa” di Wetiga, Langsat, Jakarta membahas topik “Melek media dan isu UU ITE” bersama warga Politikana. Diskusi ini berlangsung kurang lebih selama dua setengah jam, antara pukul 17.00 sampai 19.30, dengan suasana yang cukup santai di halaman kantor Wetiga dan dihadiri sekitar 15 orang peserta.

Sewaktu diundang oleh Ndoro Kakung, saya hanya tahu bahwa topik yang akan dibahas adalah menyangkut masalah Creative Commons. Setelah mendengarkan beberapa lontaran pendapat para peserta di awal diskusi, saya sedikit demi sedikit mulai memahami salah satu hal utama yang memicu diadakannya acara ini: kasus “Jurnalisme Warga vs Warga Politikana“. Ringkasnya, dari cerita yang saya tangkap, kasus ini adalah kasus penyalinan konten atau isi dari suatu situs (dalam hal ini Politikana) oleh situs lain (dalam hal ini JW) tanpa mencantumkan sumber konten tersebut.

IMG00360-20100110-1658

Saya apolitis (ya, silakan dikutip). Jadi meskipun tahu bahwa situs Politikana ada, saya tidak terlalu tertarik untuk turut aktif di situs itu. Meskipun tentu saja saya tetap menghargai warga Politikana karena tiap orang berhak punya minat masing-masing. Terlepas dari keapolitisan tersebut, begitu mendengar kasus tersebut secara otomatis saya berpihak. Menurut saya, meskipun belum ada pedoman yang mengikat tentang jurnalisme warga, pembubuhan informasi tentang sumber suatu karya adalah suatu hal yang mendasar yang seharusnya sudah diketahui umum. Di tingkat sekolah menengah pun kita sudah diajarkan untuk menuliskan daftar pustaka sewaktu mengambil sumber tulisan dari suatu rujukan.

Aturan layanan

Bagi para Wikipediawan, aturan untuk selalu menulis sumber kutipan sudah sejak lama diterapkan dan disadari. Bahkan, suatu artikel yang nyata-nyata merupakan hasil salin tempel dari suatu situs lain dapat langsung dihapus. Hal ini dilakukan untuk dapat lebih menjamin bahwa semua isi Wikipedia dapat disebarkan kembali tanpa melanggar hak cipta serta dibuat berdasarkan sumber terpercaya. Sebagai suatu ensiklopedia bebas di bawah lisensi CC-BY-SA, Wikipedia pun telah mencantumkan aturan penggunaan isi Wikipedia.

Praktik untuk membuat aturan layanan (atau aturan penggunaan) oleh pemilik situs serta kebiasaan pengunjung untuk membaca aturan layanan suatu situs yang didatanginya, merupakan dua hal yang perlu dibiasakan di kalangan para penggiat Internet Indonesia untuk mulai meningkatkan kesadaran tentang hak kekayaan intelektual untuk suatu karya digital di Internet. Seperti berulang kali dinyatakan oleh Ari Juliano (Ajo), sebenarnya hak cipta itu langsung melekat ke suatu karya begitu karya itu dibuat dan/atau dipublikasikan. Aturan layanan diperlukan untuk menegaskan hal itu.

Creative Commons

Creative Commons (CC) sebenarnya tidak lebih dari suatu alat bantu untuk membuat orang tahu aturan layanan atau penggunaan suatu karya. Ia tidak menciptakan aturan sendiri karena aturannya tetap mengacu kepada regulasi hak cipta yang berlaku di suatu yurisdiksi.

Kelebihan utama CC adalah kemudahan yang disediakannya, baik bagi pemilik karya maupun (calon) pengguna karya. Bagi pemilik karya, CC menyediakan suatu antarmuka sederhana untuk menentukan lisensi yang ingin digunakannya. Bagi pengguna karya, menyediakan suatu pedoman yang mudah dimengerti (alih-alih dokumen yang penuh bahasa hukum dan sulit dipahami) tentang apa yang dapat dilakukannya terhadap suatu karya.

Informasi lebih lanjut tentang CC dapat dilihat di situs resmi mereka atau salindia yang pernah saya siapkan untuk CC Indonesia yang mudah-mudahan tahun 2010 ini bisa diresmikan.

Kampanye kesadaran hak cipta

Dari hasil diskusi di Wetiga, disimpulkan bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran tentang hak cipta di kalangan penggiat Internet. Ada dua kesadaran yang perlu disemaikan, yaitu (1) kesadaran pemilik situs untuk membuat aturan layanan dan (2) kesadaran pengunjung situs untuk membaca aturan layanan suatu situs, terutama jika ingin memanfaatkan isinya.

Menurut Ajo, peran konkret CC Indonesia nantinya ada empat lapis: (1) menyediakan templat surat teguran dari pemilik karya ke tertuduh pelanggar aturan penggunaan, (2) menyediakan somasi dari pengacara, (3) memfasilitasi mediasi, serta (4) jika semua upaya tidak berhasil dilakukan, mendampingi upaya tuntutan hukum.

Sebelum melakukan tuntutan hukum, juga menurut Ajo, sebaiknya ditimbang dulu dua hal, yaitu (1) apakah tindakan pelanggaran tersebut berdampak besar terhadap pihak penuntut (seperti membahayakan jiwa, merusak nama baik, dll) dan (2) apakah tuntutan hukum tersebut akan berdampak besar terhadap penuntut (seperti dampak yang diderita RS anu).

Sudahkah Anda membuat aturan layanan situs Anda? Sudahkah Anda membaca aturan penggunaan suatu situs sebelum menggunakan ulang isinya?

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

7 Responses to Melindungi dan menghargai karya

  1. Hamid mengatakan:

    Wah ini dia janjinya Mas Ivan. Terima kasih Mas.

    Soal CC Indonesia, saya harap bisa secepatnya diresmikan. Saya yakin akan membawa angin segar bagi masalah hak cipta di Indonesia

  2. dani mengatakan:

    Jika lisensinya non-komersial (NC), dikutip, ditulis sumbernya, lalu konten salinan itu mendatangkan keuntungan komersial, misal menyajikan iklan sesuai konteks. Itu bagaimana ya aturannya, Om Ivan? Kalau tidak salah, FAQ CC.org menyebutkan hal itu masih ‘debatable’. Diskusi serupa ada di anggiemaya.net.

    Apa tidak sebaiknya keterangan lisensi itu dipasang ‘side-wide’, nampak di tiap halaman blog?

    Saya belum unduh berkas presentasi di atas.

    • Ivan Lanin mengatakan:

      Setahu saya, jika lisensinya NC, segala keuntungan finansial harus disepakati dengan pemilik karya. Tapi coba tanya Ajo.

      Tentang lokasi pemasangan keterangan lisensi, memang sebaiknya dapat diakses dari semua tempat di situs. Tapi jika tidak bisa, mungkin karena hambatan teknis atau estetis, paling tidak harus bisa dilihat dari beranda situs yang merupakan tempat masuk utama. Layaknya suatu rumah, ini ditempatkan di pintu masuk.

  3. Kibot Rusak mengatakan:

    “Jurisdiction of your license” sampai saat ini belum ada untuk / berbahasa Indonesia…

  4. Ping-balik: Lisensi Nonkomersial di Konten Komersial — Dani Iswara .Net

  5. maydina mengatakan:

    thx yah atas bagi2 ilmunya di sini…saya baru tau tentang CC, hak cipta, etc di sini 😉

  6. free picture of milfs mengatakan:

    It’s nearly impossible to find experienced people for this topic, however, you seem like you know what you’re talking about!
    Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: