kredit subprima

Kredit subprima adalah pemberian kredit atau pinjaman kepada debitur (peminjam) yang tidak memenuhi persyaratan kredit untuk diberikan pinjaman berdasarkan suku bunga pasar karena memiliki skor kredit (credit score) yang kurang baik. Kredit subprima terutama populer di AS dan belakangan sedang menarik perhatian karena sempat menyebabkan timbulnya gejolak di pasar finansial dunia.

Detil mengenai kredit subprima bisa ditanyakan kepada ahli keuangan atau dibaca di Wikipedia. Sisi lain yang menarik dibahas adalah proses penyerapan istilah yang relatif baru ini ke dalam bahasa Indonesia. Seperti biasa, media massa Indonesia cukup malas (atau takut?) untuk mencoba menerjemahkan istilah yang berasal dari bahasa asing ini. Kebanyakan media cetak berbahasa Indonesia bahkan sampai saat ini masih menggunakan istilah asalnya (subprime lending atau subprime mortgage) dengan kadang-kadang cukup patuh memberikan cetak miring sesuai dengan kaidah penulisan istilah asing.

Padahal, ini merupakan suatu contoh penerjemahan istilah yang cukup mudah, lho. Kembalikan saja kepada unsur-unsur pembentuknya: sub, prime, dan lending.

Sub adalah suatu prefiks yang cukup lazim diserap langsung oleh bahasa Indonesia yang mengandung makna kurang lebih “di bawah”, “kurang”, dll. Penulisannya bisa disatukan dengan kata yang mengikutinya atau diberikan tanda hubung (-) untuk memperjelas.

Terjemahan prime cukup menarik untuk diperdebatkan karena bahasa Indonesia memiliki beberapa terjemahan yang sering digunakan, misalnya “utama”, “prima”, dll. Untuk kata “subprime“, bahkan “primer” pun bisa dijadikan alternatif terjemahan yang cukup kontekstual untuk prime.

Lending atau mortgage mungkin merupakan suatu terminologi agak spesifik dalam ranah keuangan. Terjemahan yang cukup sering digunakan antara lain “pinjaman”, “kredit”, dll.

Apa yang bisa dipelajari dari proses ini? Pertama, penerjemahan adalah suatu proses yang merupakan gabungan antara logika, kebiasaan, dan seni. Tidak ada suatu terjemahan yang bisa dibilang “pasti benar” dan terjemahan yang lain “salah”. Kedua, pengertian mengenai makna adalah suatu keharusan untuk dapat menghasilkan terjemahan yang kontekstual. Ketiga, penyesuaian terhadap struktur atau pelafalan dari bahasa asli kadang harus diperhatikan agar mempermudah orang membuat asosiasi.

Yang terpenting, sekali lagi, jangan takut membuat neologisme. Bahasa Indonesia tidak akan pernah berkembang jika kita tak berani memperkayanya dengan istilah-istilah baru. Percaya deh, kejanggalan yang mungkin dirasakan hanyalah karena masalah keterbiasaan. Pergunakan saja terus istilah-istilah baru tersebut, pasti lama-lama menjadi terbiasa dan tidak terasa janggal lagi 😉

Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia

9 Responses to kredit subprima

  1. Rani says:

    akhirnya jadi subprima juga :> “sub” ga ada serapannya di indoensia ya? “sub” diartikan “di bawah” tapi tidak sepenuhnya “negatif”..

    tapi ya untung dibenerin jadi subprima kalo engga ntar keterusan jadi subprimer kan salah kaprah namanya :>

  2. Jennie says:

    Well, this kinda thingy has caused lotta problems lately. Low credit score-based credits are risky. Look at today’s housing market condition. That’s one of the issues causing the meltdown. 😦

  3. Ivan Lanin says:

    @rani: Sub udah lazim kok, Ran dan emang gak melulu berarti negatif. Btw, makasih waktu itu udah ngasih pertimbangan primer vs. prima ya 😉

    @jennie: Gara-gara pengusaha AS yang seneng “berisiko” juga tuh makanya jenis kredit ini ada 🙂 Kalau di Indonesia sih, biasanya jadi “makanan” rentenir, hehe.

  4. pico says:

    request yah…
    tolong dunk diterjemahin kata venture dari frase venture capitalist…
    mungkin tindakan mengambil resiko atau beresiko itu tidak populer di Indonesia yah…

  5. Ada beberapa hal yang memang baik untuk diterjemahkan dan ada beberapa yang sebaiknya dibiarkan “as-is”. Sub-prime ini memang sebaiknya tidak diubah menjadi sub-prima. Mengapa? Karena artinya jadi rancu gitu. Pinjaman sub-prima? Di bawah prima? Memang di Indonesia ada pinjaman yang dikategorikan seperti itu?

    Sama istilahnya seperti motherboard yang tidak diterjemahkan sebagai papan induk atau mouse komputer yang sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai cecurut.

    Pengembangan bahasa yang terbaik bukan dari menyerap dari perbendaharaan bahasa lain, melainkan dari riset dan inovasi berkesinambungan yang dilakukan oleh rakyatnya. Kalau kita terus berinovasi dan menciptakan sebuah alat (dan ternyata alat tersebut mengglobal), toh nanti mereka yang akan “menyerap” bahasa kita bukan sebaliknya.

  6. Ivan Lanin says:

    @oskar: Masalah harus atau tidaknya suatu istilah diterjemahkan memang bakal menjadi bahan perdebatan yang tidak akan habis-habisnya dan mungkin sangat subjektif sifatnya.

    Contoh-contohnya sudah Anda berikan di atas, bahkan ada juga orang-orang yang sampai sekarang merasa bahwa “hardware” sebaiknya tidak diterjemahkan menjadi “perangkat keras” karena alasan yang sama dengan yang Anda kemukakan. Btw, “mouse” menggunakan istilah “tetikus”, bukan “cecurut” 🙂

  7. Ivan Lanin says:

    @pico: Sori ternyata pesannya ditangkep akismet lagi 😦 “venture capital” sudah lazim diterjemahkan menjadi “modal ventura”, Pic.

  8. serenity says:

    @ Oscar, atau sebaliknya, penciptaan baru di negara Indonesia (kalau semua orang berpikiran seperti kamu) akan dinamakan mengikuti bahasa asing, karena tidak ada bahasa Indonesianya. Untuk ada orang-orang seperti kita…

  9. serenity says:

    @ Ivan – ketikus bukan tetikus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: