ada apa dengan bon?

Bill dalam bahasa Inggris adalah suatu dokumen permintaan pembayaran atas barang atau jasa yang telah diberikan dan umum diterapkan misalnya pada rumah makan, kartu kredit, dan penyedia jasa lainnya. Dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah ada istilah yang serupa maknanya, yaitu “bon” (dari bahasa Belanda) atau “tagihan”. Yang saya herankan, tampaknya hampir tak pernah saya mendengar pramu saji restoran menyebutkan kata tersebut. Setiap kali saya meminta bon dengan berkata “Minta bonnya dong Mas”, selalu saja dijawab kembali dengan “Oh, minta bill ya, Pak?”.

Sebenarnya, ada apa dengan bon? Mengapa orang lebih suka menggunakan bill yang bukan bahasa Indonesia? Apa banyak orang yang tidak tahu kosakata ini? Atau kurang ringkas untuk disebutkan? Atau kurang gaya karena bukan bahasa Inggris? Yah, kalau dari praktik penggunaan sehari-hari saja kita tidak menggunakan bahasa Indonesia, bagaimana mungkin kita berharap bahasa Indonesia bakal berkembang 😦

Iklan

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

10 Responses to ada apa dengan bon?

  1. Saya sering mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak yang mencemooh, tidak sedikit yang mendukung. Dalam hal ini, peran seorang Wikipediawan seperti Anda menjadi penting.

  2. Ivan Lanin says:

    Wikipedia bisa membantu dengan mendefinisikan suatu kata baru (neologisme), Mas. Karena dengan definisi, orang jadi lebih mudah menilai apakah suatu neologisme itu tepat atau tidak. Coba deh misalnya, “pembaca umpan” cukup tepat tidak? 🙂

  3. julfan says:

    terima kasih karena telah berusaha menjaga bahasa Indonesia.

  4. huda says:

    klo di tempatku masih dipake kok..
    “njaluk bon’e yo mbak..”

    klo pake “njaluk bill’e yo mbak..” malah wagu, hehehe….

  5. huda says:

    wah mas.. situs i15n.org mungkin akan lebih baik jika dibuatkan seksi blognya juga. Format wiki bagus untuk menyajikan informasi secara struktural. Tapi blog punya kelebihan lain yaitu dari segi interaktivitasnya.

    Misalnya lagi iseng-iseng bikin artikel pendek tentang satu istilah, kemudian dikupas dan didiskusikan dalam bagian komentar. Ya.. seperti misalnya artikel tentang bill ini… Kelebihan lain, bisa disajikan dengan gaya santai dan subyektif.. 🙂

    Nanti anggota i15n.org lain juga dipersilakan didorong untuk turut menulis, terutama tentang kebingungan-kebingungan di bidang proyek masing-masing

  6. Ivan Lanin says:

    @julfan: Saya cuma berupaya kritis kok. Gak mungkin jagain sendirian, Mas. Harus sama-sama 🙂

    @huda: Hehe, asik banget istilahnya. Btw, “wagu” apa sih? Situs i15n pakai blog memang sempet terpikir, tapi kamus dulu kali. Duh belum sempet kepegang lagi. Lg sibuk banget nih nyelesain deadline 😦

  7. Rizki Zamzami says:

    Beberapa kalangan percaya pemakaian “bill’ lebih sopan daripada “bon”.
    Karena ngebon artinya ngutang (berhutang), bon dianggap berarti hutang.
    Menurut saya, orang tidak lupa pada kata bon, tapi artinya sudah bergeser menjadi surat hutang.
    Bisa ngga laku restorannya kalau pengunjung disodori surat bukti hutang setelah selesai makan.

  8. Lintang says:

    Pada era orang tua2 kita dan generasi di atasnya, segala sesuatu mengacu kepada negeri Belanda. Semua yang dilakukan oleh para londo itu dianggap keren dan secara tidak langsung menjadi trend-setter. Mungkin ini sisa-sisa pengaruh penjajahan Belanda yang menomor-sekiankan warga pribumi. Sehingga penggunaan istilah-istilah Belanda menjadi salah satu tolok ukur seberapa berpendidikan dan dari kalangan mana orang yang memakainya, berasal. Jadilah penggunaan istilah Belanda, marak dipakai, satu diantaranya adalah “bon”.

    Sekarang, yang dianggap keren dan menjadi trend-setter adalah Amerika. Jadilah “bill” lebih sering dipakai oleh banyak kalangan, juga demi alasan agar terdengar elit dan berpendidikan tinggi.

  9. Ivan Lanin says:

    @rizki: Betul Ki. Ada pergeseran arti yang sebenarnya gak perlu 🙂

    @lintang: Ini juga sesuatu yang tidak semua orang paham. Popularitas bahasa Inggris sering membuat orang lupa bahwa banyak kata bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Belanda. Milis bahtera menyadarkan saya masalah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: