Rehat, rihat, dan rahat

Kurang lebih seminggu yang lalu, di milis penerjemah Bahtera dibahas bahwa menurut KBBI–bertentangan dengan penggunaan umum di kalangan masyarakat–ejaan yang baku untuk kata sinonim “istirahat” adalah “rihat”, bukan “rehat”. Ketidaksesuaian antara ejaan populer dengan ejaan baku dalam bahasa Indonesia memang kerap terjadi, misalnya “antri” (populer) vs “antre” (baku), “apotik” (populer) vs “apotek” (baku), dll. Sewaktu saya periksa di KBBI daring dan Kateglo, entri “rehat” memang betul dirujuk kepada entri “rihat”. Saya pun mengicaukan hal ini melalui Twitter dengan tagar #variasiejaan.

Tanggapan Mas @QarisT membuat saya rambang. “Jangan-jangan KBBI IV sudah mengubah ejaan yang baku,” demikian senandika saya. Kegalauan ini ternyata terbukti. KBBI IV merujukkan “rihat” kepada “rehat” yang berarti bahwa kini ejaan yang baku adalah “rehat”. Saya pun lintang pukang memperbaiki entri Kateglo sambil memendam perasaan berdosa karena salah memberi warta kepada khalayak. Mohon ampuni saya. Lain kali saya akan selalu memeriksa silang ejaan dengan KBBI yang terbaru.

Baca tulisan ini lebih lanjut

El Matador

Gambar: supastrikas.com

Anak saya, Arka (7 tahun), sangat suka dengan film seri Supa Strikas yang ditayangkan melalui saluran Disney Channel. Mau tidak mau, saya sering kadang ikut menonton serial favoritnya ini. Meskipun tidak terlalu menggemari sepak bola, saya cukup terhibur menonton film ini karena adanya berbagai aksi fantastis (yang kadang muskil dilakukan dalam dunia nyata) yang diperagakan oleh para pemain seperti Shake, El Matador, Cool Joe, dan Tiger. Tolong jangan tanya mengapa saya bisa hafal nama-nama mereka.

Salah seorang tokoh dalam serial ini, El Matador, sangat gila sanjungan. El Matador bergantung kepada sorak-sorai dari para pendukungnya untuk dapat bermain dengan bagus. Dalam salah satu episode, klub Supa Strikas mendapat sanksi tidak boleh disaksikan para pendukungnya saat bermain. El Matador pun bak singa ompong: ia kehilangan kemampuan bermainnya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Katastropik

Beberapa hari yang lalu seorang kawan lama saya bertanya tentang kata “katastropik” yang dipakai oleh Tim (Bencana) Katastropik Purba, bagian dari Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Penelusuran Google menunjukkan adanya variasi dalam penulisan nama tim ini: ada yang pakai “bencana” dan ada yang tidak. Saya pun tidak berhasil menemukan situs resmi atau dokumen resmi tentang tim ini yang dapat menjadi pegangan tentang bagaimana penulisan nama formal tim ini.

Sesuai pola umum dalam pembentukan istilah bahasa Indonesia, saya duga istilah ini berasal dari bahasa Inggris. Saya menemukan banyak temuan istilah “catastrophic disasters” di internet, namun istilah “ancient catastrophic disasters” tampaknya hanya dipakai oleh tim ini.

Baca tulisan ini lebih lanjut

In principio erat verbum

Pada awalnya adalah kata …

Indah nian adagium bahasa Latin itu
Dengan tepat menggambarkan kekuatan sang kata
Yang dapat menjadi mula sekaligus akhir
Menjalin frasa, klausa, kalimat, hingga wacana

Namun, sulit sekali tampaknya bagi para munsyi
Untuk bermufakat tentang kodrat sang kata
Bahkan buku babon tata bahasaku pun
Tiada bernas mengurai adverbia dan konjungsi

*puisi curhat seadanya sembari pulang naik taksi*

Jakarta, 21 Juni 2011

Gambar ciptaan Daniel Mitsui

Pun

Salah satu hal yang paling membuat saya frustrasi dari bahasa Indonesia adalah ketiadaan pola kata mana yang ditulis serangkai dengan partikel pun. Seperti kita ketahui, partikel ini memiliki beberapa makna, a.l. juga (mis. saya pun pergi), meski (mis. mahal pun akan kubeli), dan saja (mis. berdiri pun tidak dapat). Pedoman EyD terbaru (2009) menyatakan bahwa:

partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pada gabungan yang lazim dianggap padu yang ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Jika, maka

Sebagai pemrogram komputer, saya sangat familier dengan pasangan if-then, yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan menjadi pasangan jika-maka. Pasangan ini merupakan salah satu dari pernyataan bersyarat (conditional statement) yang dipakai oleh bahasa pemrograman untuk mengatur alur logika program. Sebagai pasangan, keduanya tentu saja harus ditulis bersama, meskipun ada beberapa bahasa pemrograman yang menghilangkan pernyataan eksplisit then dalam kode programnya.

Dalam bahasa Indonesia, kata jika dan maka adalah kata sambung, atau konjungsi, yang dipakai untuk menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat pada kalimat majemuk bertingkat. Pada kalimat jenis ini, anak kalimat berisi gagasan penjelas dan didahului oleh kata sambung, sedangkan induk kalimat berisi gagasan utama tanpa didahului oleh kata sambung. Pasangan jika-maka tidak boleh digunakan sekaligus dalam satu kalimat majemuk bertingkat. Kaidah “pencerai” pasangan ini secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut:

Jangan gunakan dua kata sambung sekaligus dalam kalimat majemuk bertingkat karena akan menimbulkan ketaksaan gagasan.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Miting

“Pak, skedul miting dengan klien minggu depan dikensel, ya.” Demikian ujar salah seorang karyawan di kantor saya. Saya paham maksudnya, yaitu jadwal rapat dengan klien minggu depan dibatalkan. KBBI sudah mencantumkan kata skedul (Ing: schedule), klien (Bld: cliënt; Ing: client), dan mengensel (Ing: cancel). Kata miting belum tercantum (meskipun sudah ada kata memiting), mungkin karena para penyusun KBBI masih ragu apakah serapan ini cukup dapat diterima. Saya belum melakukan analisis statistik penggunaan kata, namun tampaknya miting bahkan lebih kerap dipakai daripada rapat. Saya duga kata ini akan masuk dalam KBBI edisi V.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Karut-marut

Dari salah satu milis saya mendapat berita tentang The Raid (atau Serbuan Maut), film laga (atau “film eksyen” menurut Antara) Indonesia yang belakangan sedang mendapat perhatian dunia internasional. Yang menarik perhatian saya pada berita dari milis tersebut adalah kutipan berikut:

“… diantara carut marutnya kehidupan kriminalitas dan korupsi di Jakarta …”.

Oke, “di” dan “antara” memang seharusnya dipisah, tetapi kita sudah bosan membahas masalah itu toh? Perhatikan kata “carut marut”. KBBI mencantumkan entri “carut-marut” (dengan tanda hubung) dengan makna “n (1) bermacam-macam perkataan yg keji; (2) segala coreng-moreng (bekas goresan); goresan yg tidak keruan arahnya” sebagai sublema dari dua homonim “carut“: “(1) a keji, kotor, cabul (tt perkataan); (2) n luka bekas goresan”. Jadi, apakah kalimat dalam berita tersebut menggambarkan “perkataan yang keji” atau “coreng-moreng” kehidupan kriminalitas di Jakarta?

Baca tulisan ini lebih lanjut

Lawakan tunggal

Sumber: @standupshow

Seperti judul lagu lawas dari Vina Panduwinata, bulan September tahun 2011 ini tampaknya dipenuhi dengan keceriaan karena munculnya dua acara lawak baru. Pada hari Kamis (15/09) yang lalu, MetroTV telah meluncurkan suatu acara baru dengan nama “Stand-up Comedy Show” yang tayangan perdananya menampilkan @solehsolihun, @miund, dan @st_agustaf. Saluran televisi baru, KompasTV, juga rencananya akan menayangkan kompetisi “Stand Up Comedy Indonesia” mulai tanggal 24 September nanti dengan pembawa acara @pandji dan @radityadika serta juri @masbutet, @Indro_Warkop, dan @astreedtiar1207. Saya duga sebentar lagi saluran-saluran televisi lain juga akan mengadakan acara serupa karena tampaknya ada semangat solidaritas yang kuat antarstasiun televisi Indonesia untuk membuat program acara dengan genre yang serupa.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Swarabakti

Epentesis (bhs. Yunani Kuno: ἐπένθεσις epenthesis) adalah penyisipan bunyi atau huruf ke dalam kata, terutama kata pinjaman untuk memudahkan pelafalan atau menyesuaikan dengan pola fonologis bahasa peminjam, misalnya penyisipan /e/ pada kata “kelas” (Kridalaksana, 2008). Berdasarkan jenis bunyi atau huruf yang ditambahkan, epentesis dibagi menjadi ekskresensi (bhs. Inggris:  excrescence)yang menambahkan konsonan, dan anaptiksis (bhs. Inggris:  anaptyxis), yang menambahkan vokal. Anaptiksis dikenal juga dengan istilah swarabakti, dari bahasa Sanskerta svarabhakti. Berdasarkan lokasi penambahan, epentesis pada awal kata disebut protesis, misalnya “mpu” menjadi “empu”, sedangkan epentesis pada akhir kata disebut paragog, misalnya “adi” menjadi “adik”.

Tulisan ini berupaya mengupas fenomena epentesis dalam bahasa Indonesia, khususnya swarabakti, yang antara lain mencakup usul perubahan entri KBBI untuk berbagai definisi yang terkait, kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia saat ini, serta usul perubahan kaidah tersebut.
Baca tulisan ini lebih lanjut