Rehat, rihat, dan rahat
14 Februari 2012 4 Komentar
Kurang lebih seminggu yang lalu, di milis penerjemah Bahtera dibahas bahwa menurut KBBI–bertentangan dengan penggunaan umum di kalangan masyarakat–ejaan yang baku untuk kata sinonim “istirahat” adalah “rihat”, bukan “rehat”. Ketidaksesuaian antara ejaan populer dengan ejaan baku dalam bahasa Indonesia memang kerap terjadi, misalnya “antri” (populer) vs “antre” (baku), “apotik” (populer) vs “apotek” (baku), dll. Sewaktu saya periksa di KBBI daring dan Kateglo, entri “rehat” memang betul dirujuk kepada entri “rihat”. Saya pun mengicaukan hal ini melalui Twitter dengan tagar #variasiejaan.
Tanggapan Mas @QarisT membuat saya rambang. “Jangan-jangan KBBI IV sudah mengubah ejaan yang baku,” demikian senandika saya. Kegalauan ini ternyata terbukti. KBBI IV merujukkan “rihat” kepada “rehat” yang berarti bahwa kini ejaan yang baku adalah “rehat”. Saya pun lintang pukang memperbaiki entri Kateglo sambil memendam perasaan berdosa karena salah memberi warta kepada khalayak. Mohon ampuni saya. Lain kali saya akan selalu memeriksa silang ejaan dengan KBBI yang terbaru.



Sebagai pemrogram komputer, saya sangat familier dengan pasangan if-then, yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan menjadi pasangan jika-maka. Pasangan ini merupakan salah satu dari 
Epentesis (bhs. Yunani Kuno: ἐπένθεσις epenthesis) adalah penyisipan bunyi atau huruf ke dalam kata, terutama kata pinjaman untuk memudahkan pelafalan atau menyesuaikan dengan pola fonologis bahasa peminjam, misalnya penyisipan /e/ pada kata “kelas” (Kridalaksana, 2008). Berdasarkan jenis bunyi atau huruf yang ditambahkan, epentesis dibagi menjadi ekskresensi (bhs. Inggris: excrescence), yang menambahkan konsonan, dan anaptiksis (bhs. Inggris: anaptyxis), yang menambahkan vokal. Anaptiksis dikenal juga dengan istilah swarabakti, dari bahasa Sanskerta svarabhakti. Berdasarkan lokasi penambahan, epentesis pada awal kata disebut protesis, misalnya “mpu” menjadi “empu”, sedangkan epentesis pada akhir kata disebut paragog, misalnya “adi” menjadi “adik”.

Komentar