Penghubung antarkalimat

Penghubung antarkalimat (discourse connective) adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan suatu kalimat dengan kalimat lain dalam satu alinea guna menambah kepaduan wacana. Penghubung antarkalimat diletakkan di awal kalimat — tetapi bukan di awal kalimat pertama suatu paragraf — dan diikuti dengan tanda koma. Contoh penghubung antarkalimat adalah akan tetapi, jadi, dan oleh sebab itu.

Pedoman EYD tidak memberikan daftar lengkap ungkapan yang dapat berfungsi sebagai penghubung antarkalimat. Berdasarkan beberapa rujukan, ada 53 ungkapan yang dapat dipakai sebagai penghubung antarkalimat. Daftar ini mungkin tidak lengkap, tetapi, paling tidak, kata atau frasa yang berada dalam senarai ini dapat digunakan sebagai rujukan oleh para pengguna bahasa.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Keterampilan berbahasa

Sewaktu menemani Arka, anak saya, belajar untuk persiapan ujian akhir bahasa Indonesia kelas 1 SD-nya, saya teringat dengan obrolan saya beberapa tahun yang lalu dengan Uni Elvi Susanti. Kala itu si Uni memaparkan kepada saya tentang empat keterampilan berbahasa: menyimak (mendengarkan), berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan itu cukup nyata terlihat diajarkan dalam buku pelajaran Arka. Ia  menyimak dongeng dari gurunya, berbicara tentang pengalaman liburannya, membaca cerita dalam buku, serta menulis jawaban soal yang diberikan.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Spasi

Salah satu hal kecil yang sering mengganggu saya sewaktu memeriksa tulisan-tulisan pada situs iKnow adalah aturan penggunaan spasi sebelum dan setelah tanda baca. Pedoman EYD memang tidak secara jelas menyebutkan aturan ini, tetapi contoh-contoh di dalam pedoman ini memberikan gambaran tentang hal tersebut.

Tanda baca yang paling sering kita pakai–tanda titik, koma, tanya, dan seru–tidak diberi spasi sebelum tanda baca tersebut, tetapi diberi spasi setelahnya. Tanda hubung, pisah, dan garis miring tidak diberi spasi baik sebelum maupun setelah tanda baca tersebut. Tanda baca pengapit (tanda petik dan tanda kurung) diberi spasi untuk memisahkannya dengan bagian lain dari kalimat, tetapi tidak diberi spasi untuk memisahkannya dengan bagian yang diapit.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Keandalan dan kesahihan

Dua konsep menarik yang saya pelajari sewaktu mengerjakan tesis tempo hari adalah keandalan (reliabilitas, reliability) dan kesahihan (validitas, validity) data. Secara sederhana, keandalan adalah kekonsistenan dan kestabilan data atau temuan, sedangkan kesahihan adalah kesesuaian antara objek penelitian dengan data yang dilaporkan. Hubungan kedua konsep ini dengan hasil penelitian dapat dilihat pada ilustrasi sasaran tembak (bullseye) di samping. Keandalan digambarkan dengan data yang terkumpul pada tempat yang sama, sedangkan kesahihan digambarkan dengan data yang mengenai sasaran tembak.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Penelaahan sejawat

Salah satu istilah yang sempat memusingkan saya sewaktu pembuatan tesis adalah peer review. Masalah pertama adalah masalah klasik pada kata majemuk bahasa Inggris: apakah kata ini ditulis terpisah dengan spasi (peer review), terpisah dengan tanda hubung (peer-review), atau serangkai (peerreview)? Masalah kedua pun tak kalah pelik: apa padanan kata ini dalam bahasa Indonesia?

Masalah pertama dengan cepat terselesaikan. Artikel Wikipedia bahasa Inggris dan berbagai kamus daring menunjukkan penulisan yang cukup konsisten: peer review ditulis terpisah dengan spasi. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada proses evaluasi yang dilakukan oleh individu yang berkompeten pada suatu bidang tertentu. Evaluasi ini bisa dilakukan terhadap kinerja profesional (professional peer review) ataupun terhadap karya, penelitian, atau gagasan cendekia (scholarly peer review). Jenis yang kedua inilah yang paling dikenal.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Manis getir

Pertanyaan @gitaputrid membuat saya tergelitik, “Adakah terjemahan bahasa Indonesia untuk bittersweet?” Spontan saya teringat dengan “pahit getir“, ungkapan untuk menggambarkan berbagai kesulitan dan kesusahan (tentang perjalanan hidup). Berangkat dari analogi dengan ungkapan ini, saya berpikir untuk memadankan bittersweet dengan “manis getir“. Eh, ternyata /rif pun pernah menggunakan “manis getir” sebagai judul tembang mereka!

Baca tulisan ini lebih lanjut

Dengan senang hati

Saya kadang bingung kala menanggapi ungkapan “terima kasih“. Biasanya saya menanggapi dengan “sama-sama”. Tanggapan itu pula yang biasa saya terima dari orang lain sebagai balasan ucapan terima kasih saya. Dalam ragam informal, saya pikir tanggapan semacam ini tidak masalah. Yang membuat saya bingung adalah bagaimana menanggapi ungkapan “terima kasih” dalam ragam yang lebih formal serta apakah “sama-sama” ini dapat diberikan dalam semua konteks.

KBBI mencantumkan entri “sama-sama” sebagai adverbia dengan makna “kedua belah pihak tidak berbeda atau tidak berlainan; semuanya”. Nah, saya merasa makna ini tidak cocok sebagai tanggapan “terima kasih”. Apa yang tidak berbeda? Apa yang semuanya?

Baca tulisan ini lebih lanjut

Kepo

Gambar: lidahibu.com

“Jangan kepo, ah.” Kata kepo pertama kali saya (curi) dengar beberapa bulan yang lalu dari percakapan di meja sebelah saya – yang penuh oleh mahasiswa LSPR – saat sedang makan di restoran dekat kantor. Meskipun tidak tahu makna sebenarnya, dari konteks pembicaraan mereka saya menebak bahwa kalimat itu kurang lebih berarti, “Jangan ingin tahu urusan orang lain, ah.” Lumayan, bertambah satu kosakata bahasa gaul saya.

Dua hari yang lalu saya menanyakan makna dan asal kata kepo kepada khalayak Twitter. Dari berbagai tanggapan yang masuk, tampaknya tebakan saya tentang makna kata ini cukup betul. Penjelasan tentang asal kata kepo beragam, tetapi sebagian besar mengatakan bahwa kata ini berasal dari bahasa atau dialek Hokkian atau Min Nan. Tanggapan dari @sfahmism mengantarkan saya ke tulisan Aussie Pete, SINGLISH – A Language Guide for Foreigners, yang mencantumkan: Baca tulisan ini lebih lanjut

Klik

KBBI IV menambahkan homonim ketiga untuk kata klik dengan makna (1) kegiatan menekan dan melepas tombol pada tetikus komputer; (2) suara ‘klik’ pada kamera, tombol komputer, dsb. Kata serapan click dalam bahasa Inggris ini diturunkan menjadi mengeklik bila diberi awalan meN- karena dianggap memiliki satu suku kata (ekasuku). Dalam kaidah pengimbuhan bahasa Indonesia, kata dasar ekasuku mendapat swarabakti “e” saat diberi awalan meN-. Contoh lain pengimbuhan ekasuku ini adalah mengepelmengebom, dan mengecat.

Meskipun memiliki pola yang mirip karena sama-sama diawali oleh konsonan rangkap “kl” dan berasal dari serapan bahasa asing, kata klaim menjadi mengklaim (bukan mengeklaim) saat diberi awalan meN-. Ada dua kemungkinan: Baca tulisan ini lebih lanjut

Tanja

Singkatan FAQ (frequently asked question[s]) digunakan pertama kali oleh Eugene Miya dari NASA untuk milis SPACE pada tahun 1983. Pada awalnya, FAQ digunakan untuk merujuk kepada kiriman berkala yang berisi pertanyaan (dan jawabannya) yang sering diajukan oleh para anggota milis, dengan tujuan utama untuk mencegah diajukannya pertanyaan serupa. Tradisi ini pun menyebar ke berbagai ranah dan format karena (barangkali) dianggap cukup efektif untuk memberi informasi kepada para anggota atau pengguna baru.

Masalah pengulangan pertanyaan juga saya temui pada berbagai komunitas maya yang saya ikuti. Untunglah beberapa komunitas, seperti Wikipedia Indonesia dan milis Bahtera, sudah mencoba mengikuti tradisi penulisan FAQ. Faedah FAQ ini sangat saya rasakan karena, meskipun ulangan pertanyaan tidak dapat dicegah, para penanya dapat dengan mudah diberikan tautan rujukan laman FAQ yang terkait, alih-alih harus dijawab dengan panjang lebar. FAQ ini pun berguna sebagai sarana agregasi pendapat dalam komunitas — unsur terpenting dalam penerapan konsep kearifan khalayak (Surowiecki, The Wisdom of Crowds2004).

Baca tulisan ini lebih lanjut