Umpan web

Umpan web (web feed) adalah suatu sarana yang sangat memanjakan para pembaca blog. Alih-alih harus mengunjungi satu per satu blog yang diminati, pembaca hanya perlu menggunakan salah satu dari banyak pilihan pembaca umpan (feed reader) untuk menikmati informasi dari berbagai blog dalam satu tempat.

Pembaca umpan pilihan saya adalah Google Reader karena paling mudah untuk digunakan. Fiturnya pun cukup lengkap dan terus dikembangkan. Blog yang saya kumpulkan umpannya terutama adalah berbagai blog dari narablog Indonesia serta dari media massa seperti KOMPAS dan Tempo. Blog milik penayang (publisher) luar negeri yang juga saya langgani adalah blog informasi teknologi informasi (seperti TechCrunch) serta blog perusahaan penyedia layanan web (seperti Google).

Hal utama yang tidak saya sukai adalah penayang yang membatasi umpan web mereka menjadi hanya satu atau beberapa paragraf atau bahkan hanya judulnya saja. Pembatasan ini menyebabkan harus ada upaya tambahan untuk mengeklik tautannya dan masuk ke situs web aslinya. Sering kali saya terlalu malas untuk melakukan itu karena derasnya aliran umpan yang ingin dibaca.

Pembatasan ini mungkin dilakukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke situs blog penayang, yang tentunya sah-sah saja dilakukan sang pemilik. Tapi coba tengok beberapa penayang luar negeri yang tentunya juga butuh jumlah kunjungan yang besar ke situs mereka. Mereka menyediakan umpan web mereka secara penuh, seolah tidak khawatir hal tersebut akan mempengaruhi jumlah pengunjung mereka. Mengapa tidak bisa mencontoh hal tersebut? Toh jika memang isi blog tersebut bagus, pengunjung pasti akan datang.

Hal lain yang juga saya sayangkan adalah bahwa ternyata beberapa media massa Indonesia belum memperhatikan penyediaan umpan web yang baik. Ambil contoh TEMPO yang belum menyediakan umpan web untuk edisi cetak majalahnya dan Pikiran Rakyat yang tidak mempublikasikan umpan webnya secara jelas.

Semakin banyaknya jumlah penayang akan membuat semakin banyak informasi yang harus ditelan oleh pembaca blog. Sudah saatnya para penayang juga memperhatikan kenyamanan para pembaca dengan menyediakan umpan web mereka secara penuh dan baik. Tidak sulit kok untuk melakukan hal itu. WordPress dan berbagai platform blog populer lain biasanya menyediakan opsi untuk melakukannya.

Sudahkah Anda memanjakan pembaca blog Anda dengan menyediakan umpan web penuh?

Catatan: Pedantic Bastard lebih senang memadankan umpan web dengan pasokan web. Saya sendiri masih ragu mana padanan yang lebih baik. Kalau ada kesempatan, nanti akan coba ditanyakan kepada ahli bahasa yang berkompeten.

About these ads

Perihal Ivan Lanin
Wikipediawan, pencinta bahasa Indonesia, dan pendukung Creative Commons.

18 Responses to Umpan web

  1. rodin mengatakan:

    *Pasokan* web Kompas sering mati.
    -keluhansalahtempat-

  2. johnny64 mengatakan:

    sebenarnya aq akan lebih ngerti jika memakai istilah RSS feed daripada istilah umpan web yg emang jarang digunakan :-)

  3. dani mengatakan:

    Dulu sempat terdengar istilah umpanan untuk maksud yang sama. Dan pernah saya pakai beberapa kali.

    Jika tidak kita populerkan sekarang, kapan dan siapa lagi?

  4. Pedantic Bastard mengatakan:

    Menurut saya, pasokan, pemasok, distribusi atau siaran masih lebih cocok ketimbang umpan. Pembahasan saya di http://pedanticbastard.com/2010/01/31/makan-umpan-yuck/

  5. hedi mengatakan:

    sejak pertama kali, aku selalu pake pengumpan penuh

  6. Arham blogpreneur mengatakan:

    dengan tidak membatasi umpan bisa dikatakan sekaligus memberikan input seberapa real currency yg didapet dari web itu sendiri. Sementara kenapa media cetak Indonesia tidak menyematkan umpannya, bisa dikatakan karena mereka tak mau kehilangan buyer reader alasan ini bukan hipotesa saya semata tapi memang saya dapat dari pandangan client saya dimedia cetak

  7. tetembak mengatakan:

    berarti punyaku dah memanjakan penonton deh… hehe

  8. share 4 you mengatakan:

    bagus artikelnya sob…. jadi lebi tahu mengetahui feed…

  9. d.l mengatakan:

    Sekedar tambahan =)

    Penggunaan web feed (umpan/pemasok) menjadikan newsletters basis-email obsolete — tapi tidak mati, — juga beberapa teknologi lainnya yang memanfaatkan perangkat lunak third-party untuk mengakses web tertentu — pemantau status perubahan (update), pengkopi situs web, maupun peringkas situs.

    Pada bidang akademis, dan komunitas open-source — dan telah merambah ke organisasi bisnis, dan jejaring sosial — web feed kerap kali digunakan sebagai pendukung kolaborasi, dan informasi perilisan (releases). Sebut saja blogosphere (the universe), Planet Fedora/Ubuntu/Mozilla/…dll (planets), Identi.ca, dan lain sebagainya. Sisi baiknya adalah, pengurangan beban akses, dan standarisasi. Alih alih menggunakan web crawler (bots) dan mengolah raw data secara lexsikal, materi (content/post/entry) disediakan (self-describing) ke dalam format baku (dikenal luas) yaitu XML, yang lebih ramah untuk diproses dan memungkinkan lintas platform (web site, blog, komentar; blogger blog, wordpress blog, dll).

    Saya sendiri pernah melakukan usaha pengumpulan set data berupa materi blog, sebelum saya mengenal apa itu web feed. Dan percayalah itu sangat kompleks. Bukan dari sisi perangkat yang dikreasikan, akan tetapi tantangan kompleksitas datang pada saat menentukan perintah-perintah khusus, dan struktur query tertentu untuk menangani situs non-blog, maupun blog yang berasal dari perangkat blog yang berbeda.

    Standarisasi penggunaan XML pada web tidak sebatas hanya pada web feed (informasi rinkasan web), akan tetapi secara lebih meluas meliputi pemodelan meta data berupa skema RDF. Skema RDF sendiri adalah usaha dari W3C untuk merepresentasikan informasi-informasi dari web (secara umum) sehingga menghasilkan suatu kombinasi yang akurat. Usaha tersebut dikenal dengan Semantic Web. Semantic Web adalah usaha untuk meredam terulangnya situasi Menara Babylonia, sehingga kejadian yang sama tidak berlaku pada World Wide Web.

    ~o0o~

    Baik padanan kata umpan maupun pemasok, mencitrakan ciri self-describing. Tetapi perlu diketahui bawasannya RSS (beserta logo yang terpapar di atas), Atom, dan lain sebagainya “hanyalah” perangkat-perangkat — bisa dikatakan sebagai platform — yang memanfaatkan RDF guna meringkaskan materi dari web. RSS kerapkali dimiss-representasikan sebagai web feed, oleh karena RSS merukana common web feed.

    ~o0o~

    Untuk menyertakan keseluruhan maupun sebagian dari materi adalah pilihan bebas. Masing-masin individu/institusi memiliki cara, dan tujuan berbeda-beda di dalam menggunakan sindikasi web, dan hal tersebut bukan sesuatu yang patut disayangkan. Karena tujuan dari web feed adalah sindikasi dari suatu web, maka tidak ada salahnya jika keberadaan web tersebut masih dipertahankan. Jadi penggunaan excerpt (porsi kecil) adalah hal yang sudah sewajarnya.

    ~o0o~

    Sorry kepanjangan. Senang mengetahui ada orang-orang yang peduli dengan detail teknologi.

  10. d.l mengatakan:

    Ngomong2 saya tahu blog ini melalui CC. Trims buat usahanya.

  11. Rizki Harit mengatakan:

    Salam kenal, Pa Ivan. Penelusuran saya tentang istilah Creative Commons di Google yang telah membawa saya ke sini.
    Saya praktisi HKI yang (kebetulan) juga memiliki niat untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Indonesia saya.
    Ditunggu tulisan-tulisan menarik Anda selanjutnya!

  12. antyo rentjoko mengatakan:

    Pembaca umpan paling nyaman, sejauh ini menurt saya adalah Feedly. Dulu saya pakai RSS Bandit (karena membacanya luring), sebelumnya lagi pakai Oulook. Lalu pakai Google, dan akhirnya pindah ke Feedly yang bisa membaca Twitter itu.

  13. handikas mengatakan:

    udh males lagi pake yg begini, :)
    http://hndika.co.cc

  14. d.l mengatakan:

    Commenting my own comment =)

    “Tetapi perlu diketahui bawasannya RSS (beserta logo yang terpapar di atas), Atom, dan lain sebagainya “hanyalah” perangkat-perangkat — bisa dikatakan sebagai platform — yang memanfaatkan RDF guna meringkaskan materi dari web”

    Spesifikasi yang digunakan oleh RSS 0.9x dan 2.0 — yang diajukan oleh Dave Winer — tidak berbasiskan RDF. Mohon maaf buat kesalahannya, saya sempat terkecoh dengan standar RDF Site Summary 1.0 — yang memliki informasi serupa.

  15. winartobm90 mengatakan:

    info yg bagus mas…^_^

  16. treespotter mengatakan:

    Umpan kok sepertinya gak tepat.

    Dalam konteks ini “feed” itu kan push ya, obyeknya aktif. Bukan sekadar iming iming (umpan) tetapi lebih mirip Ikan Yg Dijejer Siap Pilih (kalau analoginya masih seputar mancing/air/hewan.

    Saya sih tidak terpikir untuk kata yg lebih baik, kadang kadang saya pakai “data mentah” – karena esensinya sama, Feed hampir selalu isinya Data – tanpa layer presentasinya.

    Menarik diskusinya.

  17. lazione budy mengatakan:

    jadi inget game ‘feeding frezy’.
    *abaikan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: