I keep six honest serving-men:
(They taught me all I knew)
Their names are What and Where and When
And How and Why and Who.
Rudyard Kipling, The Elephant’s Child (1902)
Dalam bahasa Inggris, 5W1H (who, what, where, when, why, how) adalah suatu konsep dasar dalam jurnalisme untuk pengumpulan informasi agar dapat memperoleh cerita yang utuh tentang suatu hal. Konsep ini menekankan bahwa suatu laporan atau cerita baru dapat dianggap lengkap jika sudah dapat menjawab enam kata tanya: siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, serta bagaimana.
Saya tidak tahu padanan singkatan ini dalam bahasa Indonesia. Tapi jika kapan diganti dengan sinonimnya, bila, dan kita mengambil semua huruf terakhir (“-a“) kata-kata tersebut, mungkin kita bisa membuat padanan istilah 5W1H ini dalam bahasa Indonesia, yaitu: 6A.
Sebenarnya sadar atau tak sadar, 68 persen orang sedikit banyak sudah menerapkan konsep “enam kata tanya” ini dalam kehidupan sehari-hari. Sewaktu mendapat secuil informasi, jika merasa informasinya tidak cukup lengkap, salah satu di antara keenam kata tersebut akan terlontar untuk mendapat keterangan tambahan.
Saya sedikit meriset tentang konsep ini sewaktu membantu Gombang menyiapkan bahan tentang “tulisan rintisan” untuk lokakarya Wikipedia di Padang beberapa bulan yang lalu. Saya berkesimpulan bahwa suatu artikel rintisan di Wikipedia bisa saja hanya satu paragraf, namun harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan 6A ini.
Sewaktu mendengarkan penuturan Mbak Mardiyah tentang pembuka (lead) tulisan, saya makin berpikir bahwa konsep 6A ini sangat bagus jika dapat dilakukan secara sadar dan sistematis. Dengan mengajukan keenam pertanyaan dasar tersebut, informasi yang dikumpulkan menjadi lengkap untuk bahan analisis atau sintesis. Sebaliknya, jika menyampaikan sesuatu dengan memperhatikan bahwa keenam pertanyaan tersebut sudah terjawab, informasi yang disampaikan pun akan lebih berkualitas.
Satu hal yang saya anggap sebagai kekurangan orang Indonesia. Kita jarang sekali mengajukan pertanyaan mengapa dan sebaliknya kadang tak senang jika ada orang yang mengajukan pertanyaan kenapa tersebut pada kita.
Padahal, Bapak Narablog Indonesia sudah mengajarkan pada kita pada setiap akhir suratnya:
Mari tanya “mengapa tidak?” lebih sering
Ada sedikit catatan tak terkait dengan topik tulisan ini. Hari ini, 3 Juli 2009, milis Bahtera, milis bahasa dan penerjemahan bahasa Indonesia, berulang tahun yang ke-12. Selamat ulang tahun! Semoga semakin bisa memberikan sumbangsih bagi perkembangan bahasa Indonesia. Mohon maaf saya sudah melanggar aturan EYD:
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Kurang seru soalnya kalau artikel ini diberi judul “Lima W dan Satu H.”
Tag: bahtera
10 Juli 2009 pukul 09:17 |
Van, saat SMP dulu, saya baca sebuah buku tentang pengelolaan majalah dinding. Penulisnya memadankan 5W1H menjadi ASDIKAMBA (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana). Enak di lidah dan telinga ‘kan?
Maryati-Sutopo dalam Bahasa dan Sastra Indonesia 3 untuk SMP/MTs Kelas IX (Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008, ISBN 979-462-864-6) juga menggunakan ini.
10 Juli 2009 pukul 09:42 |
Wow, thanks! Enak banget
10 Juli 2009 pukul 09:52 |
Si Adi Demen Babi = SIApa (Who), DImana (Where), DEngan Apa (WHAT), MENgapa (Why), BAgaimana (How), BIlamana (When) = 5W1H
7 Agustus 2009 pukul 15:03 |
yah, memang rumus 5W 1H g bakalan bisa dihilangkan pada saat kita melakukan riset…., dan hasilnya juga kita akan menggunakan 5W 1H, krn pengalamanku di bidang riset tetap menggunakan rumus ini……,