Tesaurus, mirip dengan kamus, adalah suatu buku yang memuat daftar kata atau lema dalam suatu bahasa yang disusun secara alfabetis. Jika kamus memuat definisi dan pelafalan, tesaurus memuat sinonim dan antonim untuk kata atau lema tersebut. Kata ini berasal dari bahasa Latin thesaurus serta dari bahasa Yunani θησαυρός thesauros yang berarti “gudang”. Maknanya mengalami perluasan sejak penerbitan tesaurus bahasa Inggris pertama, Roget’s Thesaurus, pada tahun 1852.
Karya pertama berbahasa Indonesia yang secara spesifik diberi judul “tesaurus” adalah Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada akhir 2006 dan berisi kurang lebih 16 ribu lema dalam 713 halaman. Walaupun masih ada peluang pengembangan di sana-sini, tesaurus yang merupakan kulminasi dari upaya 25 tahun yang dilakukan oleh Eko dari Komunitas Utan Kayu ini adalah suatu rujukan yang tak ternilai bagi peminat bahasa Indonesia untuk meretas kebuntuan pilihan kata.
Setelah kamus dan glosarium bahasa Indonesia daring serta ekstensi Firefox KBBI Daring, kebutuhan khalayak selanjutnya adalah tesaurus daring. Pertanyaannya, tunggu sampai ada orang yang membuat, atau manfaatkan “kearifan khalayak” untuk membuatnya bersama-sama?
Tag: tesaurus
27 Juli 2008 pukul 21:54 |
Saya pernah menanyakan gagasan soal ini di teknologia. Salah satu hipotesis yang muncul menyimpulkan sulit untuk membuat tesaurus menjadi daring karena diterbitkan penerbit komersial (swasta). Bukan instansi pemerintah seperti KBBI.
9 Oktober 2008 pukul 19:46 |
Saya juga sedang menerjemahkan buku teks hukum dasar S1, butuh Tesaurus dan KBBI daring nih… Haha..
23 November 2008 pukul 10:57 |
sebenarnya kalau pemerintah mau membeli hak penerbitannya, mungkin bisa diwujudkan
11 Juni 2009 pukul 14:11 |
[...] padanan suatu kata untuk mencegah kebosanan menggunakan kata yang itu-itu juga. Untung ada buku Tesaurus Bahasa Indonesia yang menjadi pemenuh dahaga untuk kebutuhan ini, meskipun belum dalam bentuk [...]