Sewaktu harus menyiapkan dua situs yang berbeda dalam waktu dua hari, dengan berat hati saya memutuskan untuk menggunakan salah satu perangkat lunak sistem manajemen konten (CMS, content management system) yang ada.
Dua nama yang langsung terbersit adalah Mambo dan Joomla, dan tentu saja si Om yang memperkenalkan dua mainan ini. Entah mengapa, setelah mencoba instalasi di server lokal, terus terang saya kurang sreg dengan keduanya. Mungkin terutama karena tema (theme) baku mereka yang kurang memenuhi selera subjektif saya. Ya, saya tahu, saya memang pemalas karena tidak mencoba mencari tema lain dari keduanya yang sebenarnya cukup mudah didapatkan.
Terpaksa harus mencari alternatif aplikasi CMS lain yang punya tema baku yang cukup dapat saya terima. Teringatlah saya pada anjuran sang Ibu dulu untuk mencoba Drupal. Inang web saya menyediakan Drupal 5.3 dengan penginstal Fantastico De Luxe untuk cPanel. Proses instalasi berjalan dengan sangat mudah dan dalam waktu kurang dari 2 menit Drupal sudah terpasang dan siap dikonfigurasi.
Pertanyaan pertama adalah bagaimana mengubah halaman muka sesuai keinginan? Googling membawa saya membaca suatu artikel yang menganjurkan menginstal modul Views agar lebih fleksibel mengatur tampilan. Oke, pertanyaan pertama terjawab.
Pertanyaan kedua adalah bagaimana memudahkan penyuntingan artikel sehingga orang lain dapat melakukannya tanpa perlu mengerti tag HTML? Hmm, editor WYSIWYG tampaknya adalah jawabannya. Setelah mencari beberapa alternatif, dipasanglah modul FCKeditor untuk Drupal.
Pertanyaan terakhir adalah bagaimana menyediakan fasilitas multilingual karena salah satu situs mensyaratkan adanya fitur ini. Pertanyaan ini pun dengan mudah terjawab: modul Internationalization.
Dalam waktu kurang dari tiga jam, dua situs itupun sudah terpasang dan saya dapat kembali melakukan pekerjaan utama saya.
Satu yang kurang dan menjadi pekerjaan rumah yang cukup menantang: pelokalan bahasa Indonesia untuk Drupal. Sampai dengan versi 4.x, terjemahan bahasa Indonesia Drupal sudah ada. Tapi saya belum berhasil menemukan untuk versi selanjutnya. Ada yang tahu?
4 Maret 2008 pukul 02:28 |
wordpress lebih friendly….
4 Maret 2008 pukul 02:52 |
views, cck, pathauto..
didat: somehow, wordpress itu blog centric banget..
4 Maret 2008 pukul 03:51 |
heheee kalo udah jago drupalnya bagi2 ilmu ya, gue kagak sempet ngulik2 nih padahal udah bosen sama skin-nya..
localization ada di sini kali ? http://www.drupal-id.com/
mereka cukup tanggep jawap pertanyaan kok
4 Maret 2008 pukul 07:39 |
Untuk versi 5.x setau saya memang blum ada translation untuk bahasa Indonesia. Kalau pun ada pasti ga seluruhnya berhasil diterjemahkan. Saya pribadi pernah mencoba mentranslatenya untuk keperluan membuat web komunitas TransJakarta tapi hanya untuk tampilan frontend saja.
4 Maret 2008 pukul 08:50 |
kalo saya, penerjemahan saya edit langsung dari setiap file .module nya dan .inc nya. Find and replace dengan bahasa indonesia.
untuk module wajib: cck, views, custom_pagers, image, img_assist, nodewords, pathauto, thickbox, tinymce,
untuk module addtional: akismet, captcha, mycap (tapi ini gak ada di site drupal.org), invite, legal, link, login_destination, panels, privatemsg, service_links, tagadelic, token, usenode,
4 Maret 2008 pukul 12:16 |
pilih yang terbaik
itu saja
4 Maret 2008 pukul 15:29 |
Salam Damai…
jika berkenan kunjungi BLOG kami…
http://www.tanpabendera.wordpress.com
untuk TUHAN.. untuk INDONESIA..
tnx alot….
5 Maret 2008 pukul 00:02 |
Terjemahan Drupal terbaru sudah ada di drupal.org boz. Salam kenal!
5 Maret 2008 pukul 02:01 |
saya lagi berusaha mempelajari drupal.. koq susah yah
8 Maret 2008 pukul 03:38 |
thanks mas.. artikelnya sangat berguna buat saya
10 Agustus 2009 pukul 01:37 |
[...] Gravatar telah tersedia untuk beberapa perangkat lunak penerbitan blog seperti WordPress atau Drupal. Sewaktu seorang menulis komentar pada sistem yang telah mendukung Gravatar, alamat surel yang [...]