Lawakan tunggal
20 September 2011 9 Komentar

Sumber: @standupshow
Seperti judul lagu lawas dari Vina Panduwinata, bulan September tahun 2011 ini tampaknya dipenuhi dengan keceriaan karena munculnya dua acara lawak baru. Pada hari Kamis (15/09) yang lalu, MetroTV telah meluncurkan suatu acara baru dengan nama “Stand-up Comedy Show” yang tayangan perdananya menampilkan @solehsolihun, @miund, dan @st_agustaf. Saluran televisi baru, KompasTV, juga rencananya akan menayangkan kompetisi “Stand Up Comedy Indonesia” mulai tanggal 24 September nanti dengan pembawa acara @pandji dan @radityadika serta juri @masbutet, @Indro_Warkop, dan @astreedtiar1207. Saya duga sebentar lagi saluran-saluran televisi lain juga akan mengadakan acara serupa karena tampaknya ada semangat solidaritas yang kuat antarstasiun televisi Indonesia untuk membuat program acara dengan genre yang serupa.
Epentesis (bhs. Yunani Kuno: ἐπένθεσις epenthesis) adalah penyisipan bunyi atau huruf ke dalam kata, terutama kata pinjaman untuk memudahkan pelafalan atau menyesuaikan dengan pola fonologis bahasa peminjam, misalnya penyisipan /e/ pada kata “kelas” (Kridalaksana, 2008). Berdasarkan jenis bunyi atau huruf yang ditambahkan, epentesis dibagi menjadi ekskresensi (bhs. Inggris: excrescence), yang menambahkan konsonan, dan anaptiksis (bhs. Inggris: anaptyxis), yang menambahkan vokal. Anaptiksis dikenal juga dengan istilah swarabakti, dari bahasa Sanskerta svarabhakti. Berdasarkan lokasi penambahan, epentesis pada awal kata disebut protesis, misalnya “mpu” menjadi “empu”, sedangkan epentesis pada akhir kata disebut paragog, misalnya “adi” menjadi “adik”.
Pada sekitar dasawarsa 1950-an, dengan didorong oleh kebutuhan penghematan, banyak orang di Amerika Serikat berusaha untuk mengerjakan sendiri proyek perbaikan rumah mereka. Istilah “




Komentar