Koma serial

Butir pertama pada bagian penggunaan tanda koma pedoman EyD kita berbunyi, “Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.” Contoh-contoh pada pedoman itu menunjukkan bahwa, selain di antara masing-masing butir, tanda koma juga diberikan sebelum kata sambung (misalnya “dan”) pada akhir daftar:

  • Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
  • Surat biasa, surat kilat, ataupun surat kilat khusus memerlukan prangko.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Kami

 Salah satu kata yang tampaknya mulai dilupakan oleh para penutur Indonesia kiwari adalah “kami“. Pamor “kami” memudar lantaran sering digantikan oleh kata “kita“, terutama dalam ragam percakapan. Walaupun sama-sama merupakan kata ganti (pronomina) orang pertama jamak, “kita” dan “kami” memiliki perbedaan makna: “kita” menyertakan lawan bicara (saya dan yang lain, termasuk kamu), sedangkan “kami” TIDAK menyertakan lawan bicara (saya dan yang lain, tetapi tidak termasuk kamu). Ilustrasi pada gambar mungkin dapat memperjelas perbedaan kedua konsep tersebut.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Investasi

Gambar: Financial Advice for Beginners

Beberapa hari yang lalu saya penasaran mencari asal kata “investasi”. Sejalan dengan pola pembentukan kata bahasa Indonesia, kata yang berakhiran -asi ini tampaknya berasal dari kata bahasa Belanda yang berakhiran -atie atau bahasa Inggris yang berakhiran -ation atau -cy. Buku Loan-word in Indonesian and Malay pun mencantumkan bahwa kata ini berasal dari kata investment (bahasa Inggris) atau investering (bahasa Belanda). Eh, tunggu. Kedua kata itu, kan, tidak berakhiran -atie, -ation, atau -cy. Bagaimana caranya kedua kata itu bisa diserap menjadi “investasi”?

Masalah asal kata “investasi” ini ternyata telah mengganjal bahkan sejak zaman Eyang Polisi EYD, saat saya baru saja menginjak akil balig. Satu demi satu saya telusuri komentar pada tulisan tersebut dan ternyata pertanyaan “dari manakah asal kata investasi?” memang belum terjawab. Akhirnya saya tulis surat kepada dua orang dari milis Bahtera yang saya tahu cukup memahami bahasa Belanda: Pak Eddie Notowidigdo dan Pak Peter Rietbergen.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Profesionalitas

Melalui Twitter, @AviantyAdil bertanya,

“Bedanya penggunaan profesionalitas dan profesionalisme apa ya pak @ivanlanin? … Saya mempertanyakan krn kebetulan kata profesionalitas baru digunakan presiden.”

Dengan spontan saya menjawab,

-itas serapan dr -ity; -isme dr -ism. Saya tdk menemukan professionality dlm bhs Inggris, jd hrsnya profesionalitas tdk ada.”

Ternyata saya salah. Kata “profesionalitas” tercantum di dalam KBBI daring dengan makna: 1 perihal profesi; keprofesian; 2 kemampuan untuk bertindak secara profesional.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Rehat, rihat, dan rahat

Kurang lebih seminggu yang lalu, di milis penerjemah Bahtera dibahas bahwa menurut KBBI–bertentangan dengan penggunaan umum di kalangan masyarakat–ejaan yang baku untuk kata sinonim “istirahat” adalah “rihat”, bukan “rehat”. Ketidaksesuaian antara ejaan populer dengan ejaan baku dalam bahasa Indonesia memang kerap terjadi, misalnya “antri” (populer) vs “antre” (baku), “apotik” (populer) vs “apotek” (baku), dll. Sewaktu saya periksa di KBBI daring dan Kateglo, entri “rehat” memang betul dirujuk kepada entri “rihat”. Saya pun mengicaukan hal ini melalui Twitter dengan tagar #variasiejaan.

Tanggapan Mas @QarisT membuat saya rambang. “Jangan-jangan KBBI IV sudah mengubah ejaan yang baku,” demikian senandika saya. Kegalauan ini ternyata terbukti. KBBI IV merujukkan “rihat” kepada “rehat” yang berarti bahwa kini ejaan yang baku adalah “rehat”. Saya pun lintang pukang memperbaiki entri Kateglo sambil memendam perasaan berdosa karena salah memberi warta kepada khalayak. Mohon ampuni saya. Lain kali saya akan selalu memeriksa silang ejaan dengan KBBI yang terbaru.

Baca tulisan ini lebih lanjut

El Matador

Gambar: supastrikas.com

Anak saya, Arka (7 tahun), sangat suka dengan film seri Supa Strikas yang ditayangkan melalui saluran Disney Channel. Mau tidak mau, saya sering kadang ikut menonton serial favoritnya ini. Meskipun tidak terlalu menggemari sepak bola, saya cukup terhibur menonton film ini karena adanya berbagai aksi fantastis (yang kadang muskil dilakukan dalam dunia nyata) yang diperagakan oleh para pemain seperti Shake, El Matador, Cool Joe, dan Tiger. Tolong jangan tanya mengapa saya bisa hafal nama-nama mereka.

Salah seorang tokoh dalam serial ini, El Matador, sangat gila sanjungan. El Matador bergantung kepada sorak-sorai dari para pendukungnya untuk dapat bermain dengan bagus. Dalam salah satu episode, klub Supa Strikas mendapat sanksi tidak boleh disaksikan para pendukungnya saat bermain. El Matador pun bak singa ompong: ia kehilangan kemampuan bermainnya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Katastropik

Beberapa hari yang lalu seorang kawan lama saya bertanya tentang kata “katastropik” yang dipakai oleh Tim (Bencana) Katastropik Purba, bagian dari Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Penelusuran Google menunjukkan adanya variasi dalam penulisan nama tim ini: ada yang pakai “bencana” dan ada yang tidak. Saya pun tidak berhasil menemukan situs resmi atau dokumen resmi tentang tim ini yang dapat menjadi pegangan tentang bagaimana penulisan nama formal tim ini.

Sesuai pola umum dalam pembentukan istilah bahasa Indonesia, saya duga istilah ini berasal dari bahasa Inggris. Saya menemukan banyak temuan istilah “catastrophic disasters” di internet, namun istilah “ancient catastrophic disasters” tampaknya hanya dipakai oleh tim ini.

Baca tulisan ini lebih lanjut

In principio erat verbum

Pada awalnya adalah kata …

Indah nian adagium bahasa Latin itu
Dengan tepat menggambarkan kekuatan sang kata
Yang dapat menjadi mula sekaligus akhir
Menjalin frasa, klausa, kalimat, hingga wacana

Namun, sulit sekali tampaknya bagi para munsyi
Untuk bermufakat tentang kodrat sang kata
Bahkan buku babon tata bahasaku pun
Tiada bernas mengurai adverbia dan konjungsi

*puisi curhat seadanya sembari pulang naik taksi*

Jakarta, 21 Juni 2011

Gambar ciptaan Daniel Mitsui

Pun

Salah satu hal yang paling membuat saya frustrasi dari bahasa Indonesia adalah ketiadaan pola kata mana yang ditulis serangkai dengan partikel pun. Seperti kita ketahui, partikel ini memiliki beberapa makna, a.l. juga (mis. saya pun pergi), meski (mis. mahal pun akan kubeli), dan saja (mis. berdiri pun tidak dapat). Pedoman EyD terbaru (2009) menyatakan bahwa:

partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pada gabungan yang lazim dianggap padu yang ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Jika, maka

Sebagai pemrogram komputer, saya sangat familier dengan pasangan if-then, yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan menjadi pasangan jika-maka. Pasangan ini merupakan salah satu dari pernyataan bersyarat (conditional statement) yang dipakai oleh bahasa pemrograman untuk mengatur alur logika program. Sebagai pasangan, keduanya tentu saja harus ditulis bersama, meskipun ada beberapa bahasa pemrograman yang menghilangkan pernyataan eksplisit then dalam kode programnya.

Dalam bahasa Indonesia, kata jika dan maka adalah kata sambung, atau konjungsi, yang dipakai untuk menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat pada kalimat majemuk bertingkat. Pada kalimat jenis ini, anak kalimat berisi gagasan penjelas dan didahului oleh kata sambung, sedangkan induk kalimat berisi gagasan utama tanpa didahului oleh kata sambung. Pasangan jika-maka tidak boleh digunakan sekaligus dalam satu kalimat majemuk bertingkat. Kaidah “pencerai” pasangan ini secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut:

Jangan gunakan dua kata sambung sekaligus dalam kalimat majemuk bertingkat karena akan menimbulkan ketaksaan gagasan.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 9.925 pengikut lainnya.