Kepo

Gambar: lidahibu.com

“Jangan kepo, ah.” Kata kepo pertama kali saya (curi) dengar beberapa bulan yang lalu dari percakapan di meja sebelah saya – yang penuh oleh mahasiswa LSPR – saat sedang makan di restoran dekat kantor. Meskipun tidak tahu makna sebenarnya, dari konteks pembicaraan mereka saya menebak bahwa kalimat itu kurang lebih berarti, “Jangan ingin tahu urusan orang lain, ah.” Lumayan, bertambah satu kosakata bahasa gaul saya.

Dua hari yang lalu saya menanyakan makna dan asal kata kepo kepada khalayak Twitter. Dari berbagai tanggapan yang masuk, tampaknya tebakan saya tentang makna kata ini cukup betul. Penjelasan tentang asal kata kepo beragam, tetapi sebagian besar mengatakan bahwa kata ini berasal dari bahasa atau dialek Hokkian atau Min Nan. Tanggapan dari @sfahmism mengantarkan saya ke tulisan Aussie Pete, SINGLISH – A Language Guide for Foreigners, yang mencantumkan: Baca tulisan ini lebih lanjut

Klik

KBBI IV menambahkan homonim ketiga untuk kata klik dengan makna (1) kegiatan menekan dan melepas tombol pada tetikus komputer; (2) suara ‘klik’ pada kamera, tombol komputer, dsb. Kata serapan click dalam bahasa Inggris ini diturunkan menjadi mengeklik bila diberi awalan meN- karena dianggap memiliki satu suku kata (ekasuku). Dalam kaidah pengimbuhan bahasa Indonesia, kata dasar ekasuku mendapat swarabakti “e” saat diberi awalan meN-. Contoh lain pengimbuhan ekasuku ini adalah mengepelmengebom, dan mengecat.

Meskipun memiliki pola yang mirip karena sama-sama diawali oleh konsonan rangkap “kl” dan berasal dari serapan bahasa asing, kata klaim menjadi mengklaim (bukan mengeklaim) saat diberi awalan meN-. Ada dua kemungkinan: Baca tulisan ini lebih lanjut

Tanja

Singkatan FAQ (frequently asked question[s]) digunakan pertama kali oleh Eugene Miya dari NASA untuk milis SPACE pada tahun 1983. Pada awalnya, FAQ digunakan untuk merujuk kepada kiriman berkala yang berisi pertanyaan (dan jawabannya) yang sering diajukan oleh para anggota milis, dengan tujuan utama untuk mencegah diajukannya pertanyaan serupa. Tradisi ini pun menyebar ke berbagai ranah dan format karena (barangkali) dianggap cukup efektif untuk memberi informasi kepada para anggota atau pengguna baru.

Masalah pengulangan pertanyaan juga saya temui pada berbagai komunitas maya yang saya ikuti. Untunglah beberapa komunitas, seperti Wikipedia Indonesia dan milis Bahtera, sudah mencoba mengikuti tradisi penulisan FAQ. Faedah FAQ ini sangat saya rasakan karena, meskipun ulangan pertanyaan tidak dapat dicegah, para penanya dapat dengan mudah diberikan tautan rujukan laman FAQ yang terkait, alih-alih harus dijawab dengan panjang lebar. FAQ ini pun berguna sebagai sarana agregasi pendapat dalam komunitas — unsur terpenting dalam penerapan konsep kearifan khalayak (Surowiecki, The Wisdom of Crowds2004).

Baca tulisan ini lebih lanjut

Anda

Eureka! Demikian sorak saya dalam hati sewaktu menemukan artikel mengenai T-V distinction (pembedaan T-V) di Wikipedia bahasa Inggris. Artikel ini secara ilmiah menjawab dua pertanyaan saya, dan mungkin juga pertanyaan sebagian besar penutur bahasa Indonesia, tentang kata “Anda”: (1) mengapa ada pembedaan antara sapaan orang kedua formal dengan informal? (2) mengapa huruf “A” pada kata itu ditulis dengan huruf kapital?

Sejarah pembentukan kata “Anda” yang dipopulerkan oleh Pak Rosihan Anwar ini telah diuraikan oleh Pak ABS di milis Bahtera pada akhir tahun 2009. Menurut Pak ABS–yang mengenal Pak Rosihan secara pribadi dan mengikuti proses kemunculan kata “Anda” di koran Pedoman pada tahun 1958–kata ini lahir dari kata “andika“, sapaan hormat orang kedua; Tuanku. Bahwa kata ini diusulkan oleh seorang mayor penerbang dari Palembang atau berasal dari nama seorang penyanyi barangkali saja benar, tetapi kita butuh fakta sejarah autentik untuk membuktikan hal tersebut. Mengapa kata ini yang dipilih dan bukan kata yang lain? Saya pikir alasannya adalah semata pilihan sang pencipta kata yang kemudian diiakan oleh para penutur bahasa (pada zaman itu). Yang ingin saya uraikan di sini adalah jawaban dari dua pertanyaan pada alinea pembuka.

Baca tulisan ini lebih lanjut

S-2

Dunia pendidikan kita mengenal istilah “strata” (jalur akademis) dan “diploma” (jalur profesional) untuk jenjang pendidikan. Kedua istilah ini masing-masing disingkat menjadi “S” dan “D” dan diikuti oleh angka yang menunjukkan jenjangnya. Sayangnya, penulisan singkatan yang diikuti oleh angka ini belum seragam. Ada yang menulis dengan tanda hubung, misalnya “S-2″, dan ada yang tidak, misalnya “S2″.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Terima kasih

Sesuai dengan budaya kita, kata “terima kasih” merupakan salah satu kata yang cukup sering digunakan. KBBI mengelompokkan kata ini sebagai kata benda (nomina) dan memerikan maknanya sebagai “rasa syukur”. Kata ini adalah kata majemuk, atau kadang disebut gabungan kata, yang tersusun dari kata “terima” dan “kasih”. Kata “terima” hanya mengandung satu makna, yaitu “menyambut atau mendapat sesuatu”, sedangkan kata “kasih” merupakan homonim dengan dua makna: (1) perasaan sayang; (2) beri, memberi. Saya belum berhasil menemukan penjelasan tentang bagaimana kata majemuk ini terbentuk, namun saya duga makna “kasih” yang diambil adalah makna keduanya. Jadi, secara harfiah, kata majemuk (yang terkadang merupakan idiom atau ungkapan) ini dapat bermakna “menyambut pemberian”.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Koma serial

Butir pertama pada bagian penggunaan tanda koma pedoman EyD kita berbunyi, “Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.” Contoh-contoh pada pedoman itu menunjukkan bahwa, selain di antara masing-masing butir, tanda koma juga diberikan sebelum kata sambung (misalnya “dan”) pada akhir daftar:

  • Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
  • Surat biasa, surat kilat, ataupun surat kilat khusus memerlukan prangko.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Kami

 Salah satu kata yang tampaknya mulai dilupakan oleh para penutur Indonesia kiwari adalah “kami“. Pamor “kami” memudar lantaran sering digantikan oleh kata “kita“, terutama dalam ragam percakapan. Walaupun sama-sama merupakan kata ganti (pronomina) orang pertama jamak, “kita” dan “kami” memiliki perbedaan makna: “kita” menyertakan lawan bicara (saya dan yang lain, termasuk kamu), sedangkan “kami” TIDAK menyertakan lawan bicara (saya dan yang lain, tetapi tidak termasuk kamu). Ilustrasi pada gambar mungkin dapat memperjelas perbedaan kedua konsep tersebut.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Investasi

Gambar: Financial Advice for Beginners

Beberapa hari yang lalu saya penasaran mencari asal kata “investasi”. Sejalan dengan pola pembentukan kata bahasa Indonesia, kata yang berakhiran -asi ini tampaknya berasal dari kata bahasa Belanda yang berakhiran -atie atau bahasa Inggris yang berakhiran -ation atau -cy. Buku Loan-word in Indonesian and Malay pun mencantumkan bahwa kata ini berasal dari kata investment (bahasa Inggris) atau investering (bahasa Belanda). Eh, tunggu. Kedua kata itu, kan, tidak berakhiran -atie, -ation, atau -cy. Bagaimana caranya kedua kata itu bisa diserap menjadi “investasi”?

Masalah asal kata “investasi” ini ternyata telah mengganjal bahkan sejak zaman Eyang Polisi EYD, saat saya baru saja menginjak akil balig. Satu demi satu saya telusuri komentar pada tulisan tersebut dan ternyata pertanyaan “dari manakah asal kata investasi?” memang belum terjawab. Akhirnya saya tulis surat kepada dua orang dari milis Bahtera yang saya tahu cukup memahami bahasa Belanda: Pak Eddie Notowidigdo dan Pak Peter Rietbergen.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Profesionalitas

Melalui Twitter, @AviantyAdil bertanya,

“Bedanya penggunaan profesionalitas dan profesionalisme apa ya pak @ivanlanin? … Saya mempertanyakan krn kebetulan kata profesionalitas baru digunakan presiden.”

Dengan spontan saya menjawab,

-itas serapan dr -ity; -isme dr -ism. Saya tdk menemukan professionality dlm bhs Inggris, jd hrsnya profesionalitas tdk ada.”

Ternyata saya salah. Kata “profesionalitas” tercantum di dalam KBBI daring dengan makna: 1 perihal profesi; keprofesian; 2 kemampuan untuk bertindak secara profesional.

Baca tulisan ini lebih lanjut