Koprol

6 Juli 2009 by Ivan Lanin

Koprol adalah jejaring sosial bergerak yang menghubungkan kamu dengan orang-orang di sekitarmu.

Koprol membuatmu dapat berbagi kiriman singkat, lokasi, foto, serta ulasan dengan teman-teman serta orang-orang di sekitarmu. Dengan Koprol, kamu akan tahu di mana teman-temanmu berada dan juga apa saja yang terjadi di sekitarmu.

Jika kebanyakan jejaring sosial membuatmu duduk diam di depan komputer, Koprol menyertaimu berkeliling kota dan bertemu teman-teman dalam dunia nyata.

Koprol ditujukan bagi orang-orang di berbagai kota di Indonesia. Koprol sangat mudah digunakan, dapat dijalankan pada berbagai penjelajah web ponsel, serta tidak membutuhkan GPS.

Demikian penjelasan mengenai Koprol yang ditulis dengan bahasa Inggris di situs jejaring sosial asli Indonesia tersebut. Bagi para penggiat web yang sudah terbiasa dengan mikroblog seperti Twitter dan Plurk, meskipun tak sama persis, Koprol memiliki banyak kesamaan dengan tempat bermain biasa mereka.

Saya masuk dalam gerbong yang terlambat menjajal Koprol. Walau telah agak lama tahu, baru akhir pekan kemarin saya menyempatkan mencoba mainan baru Satya dkk. ini melalui peranti bergerak saya. Koprol mengingatkan saya pada layanan papayanews yang pernah digagas Ompung Julius Sirait pada sekitar tahun 2007. Ya Ton?

Simpulan ringkas saya, Koprol sangat berpotensi untuk menarik ceruk pengguna tersendiri di jejaring sosial Indonesia. Ada banyak hal-hal yang unik dan menarik yang bisa menjadi keunggulan Koprol walaupun tentunya tetap ada beberapa hal yang masih dapat dikembangkan.

Yang menarik

Tampilan

Tampilan situs Koprol di layar komputer cukup menarik, khas Web 2.0 dengan warna-warna berani yang didominasi oleh warna hijau, desain dan tata letak minimalis, serta tipografi artistik dan besar. Tampilan di layar kecil peranti bergerak pun berhasil disesuaikan dengan keterbatasan perangkat ini secara apik.

Lokasi

Fitur lapor masuk (check in) di Koprol menjadi suatu penanda keberadaan pengguna di suatu lokasi. Hal ini diterapkan tampaknya untuk menunjang salah satu sifat Koprol sebagai layanan berbasis lokasi.

Status

Sapaan atau pertanyaan yang berganti secara acak di atas kotak isian pembaruan status menjadi hal yang menarik dan mendorong pengguna untuk mengisinya dengan hal yang berbeda. Ini adalah salah satu keunikan Koprol dibanding layanan sejenis lainnya.

Foto

Melengkapi status atau kiriman singkat dari suatu lokasi atau tempat, pengguna Koprol juga dapat mengirimkan foto dengan cara yang cukup mudah melalui ponsel yang dilengkapi dengan kamera.

Ulasan

Akhirnya, pengguna Koprol dapat memberikan komentar atau ulasan pada suatu tempat yang didatanginya. Ulasan ini dapat menjadi rujukan bagi orang lain yang akan mendatangi tempat tersebut.

Kombinasi kuartet lokasi, status, foto, dan ulasan inilah yang membuat layanan Koprol unik dibandingkan layanan lainnya.

Yang dapat dikembangkan

Akses

Saat ini tampaknya Koprol diterapkan seperti Facebook, yaitu suatu taman berdinding (walled garden). Orang baru bisa menikmati keindahannya setelah masuk log. Melihat materi yang tersedia, seperti komentar, foto, serta ulasan tentang suatu tempat, sebenarnya sangat bagus jika taman Koprol dibuka untuk publik, terutama untuk mesin-mesin pencari agar dapat menuai sedikit limpahan dari orang yang nyasar masuk sewaktu menggunakan mesin pencari.

API juga merupakan sarana peluasan akses. Tidak perlu ragu untuk menyediakannya sejak awal dan tak usah menunggu permintaan atau kebutuhan pengembang lain.

Bahasa

Dari pernyataan di situsnya, “Koprol is aimed for people in Indonesian cities,” agak janggal bahwa bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Inggris. Jika sasarannya adalah orang Indonesia, rasanya akan lebih pas jika antarmukanya menggunakan bahasa Indonesia. Atau paling tidak, berikan pilihan. Bahasa Indonesia yang dipakai sebaiknya jangan gaya formal, melainkan gaya percakapan agar tak terkesan kaku.

Lokasi

Penggunaan sistem lapor masuk (check in) cukup bagus karena tidak bergantung pada ketersediaan peranti GPS. Akan lebih bagus lagi jika Koprol dapat melayani orang yang menggunakan peranti dengan GPS terpasang. Dengan pendeteksian lokasi secara otomatis, pengguna akan dimudahkan, walaupun dapat juga diberi pilihan untuk menggantinya secara manual.

Selain melalui GPS pada peranti bergerak, penjelajah web destop modern seperti Firefox 3.5 atau Chrome juga sebenarnya sudah dapat digunakan untuk memindai lokasi, lho.

Terkait dengan lokasi, memang disadari bahwa basis data lokasi tempat adalah sesuatu yang selalu dinamis. Saat ini penambahan lokasi baru tampaknya dilakukan manual oleh admin. Dengan pengguna yang masih sedikit, hal ini masih memungkinkan, walaupun untuk pengguna baru mungkin akan menjadi penghambat karena sewaktu mau menggunakan, lokasi yang dicarinya belum tersedia. Akan jauh lebih baik jika pengguna diberikan kesempatan untuk memasukkan lokasi baru secara mandiri, walaupun, jika dipandang perlu, admin diperlukan untuk menyetujui lokasi baru tersebut.

Status

Sapaan atau pertanyaan yang berganti-ganti di bagian atas kotak isian status dapat menjadi perangsang bagi pengguna untuk mengisi sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Pada uji coba saya, beberapa kali saya diajukan pertanyaan yang sama, misalnya “How’s the traffic?” Ya saya jawab saja “Loh, kok ditanya lagi? Tadi kan sudah dijawab?” Sebaiknya ada pelacakan pertanyaan apa saja yang sudah diajukan dan jangan sampai diajukan pertanyaan yang sama. Atau ada opsi (di sebelah pertanyaan tersebut misalnya) untuk mengganti pertanyaan.

Penutup

Ternyata panjang juga ulasannya ya. Semoga masukan ini dapat berguna bagi tim pengembang Koprol.

Apa? Anda belum tahu apa itu koprol?

kop·rol v gerakan berguling ke depan

Ayo, cepat coba sebelum gerbong terakhir lewat!

5W1H

3 Juli 2009 by Ivan Lanin

I keep six honest serving-men:
(They taught me all I knew)
Their names are What and Where and When
And How and Why and Who.

Rudyard Kipling, The Elephant’s Child (1902)

Dalam bahasa Inggris, 5W1H (who, what, where, when, why, how) adalah suatu konsep dasar dalam jurnalisme untuk pengumpulan informasi agar dapat memperoleh cerita yang utuh tentang suatu hal. Konsep ini menekankan bahwa suatu laporan atau cerita baru dapat dianggap lengkap jika sudah dapat menjawab enam kata tanya: siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, serta bagaimana.

Saya tidak tahu padanan singkatan ini dalam bahasa Indonesia. Tapi jika kapan diganti dengan sinonimnya, bila, dan kita mengambil semua huruf terakhir (”-a“) kata-kata tersebut, mungkin kita bisa membuat padanan istilah 5W1H ini dalam bahasa Indonesia, yaitu: 6A.

Sebenarnya sadar atau tak sadar, 68 persen orang sedikit banyak sudah menerapkan konsep “enam kata tanya” ini dalam kehidupan sehari-hari. Sewaktu mendapat secuil informasi, jika merasa informasinya tidak cukup lengkap, salah satu di antara keenam kata tersebut akan terlontar untuk mendapat keterangan tambahan.

Saya sedikit meriset tentang konsep ini sewaktu membantu Gombang menyiapkan bahan tentang “tulisan rintisan” untuk lokakarya Wikipedia di Padang beberapa bulan yang lalu. Saya berkesimpulan bahwa suatu artikel rintisan di Wikipedia bisa saja hanya satu paragraf, namun harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan 6A ini.

Sewaktu mendengarkan penuturan Mbak Mardiyah tentang pembuka (lead) tulisan, saya makin berpikir bahwa konsep 6A ini sangat bagus jika dapat dilakukan secara sadar dan sistematis. Dengan mengajukan keenam pertanyaan dasar tersebut, informasi yang dikumpulkan menjadi lengkap untuk bahan analisis atau sintesis. Sebaliknya, jika menyampaikan sesuatu dengan memperhatikan bahwa keenam pertanyaan tersebut sudah terjawab, informasi yang disampaikan pun akan lebih berkualitas.

Satu hal yang saya anggap sebagai kekurangan orang Indonesia. Kita jarang sekali mengajukan pertanyaan mengapa dan sebaliknya kadang tak senang jika ada orang yang mengajukan pertanyaan kenapa tersebut pada kita.

Padahal, Bapak Narablog Indonesia sudah mengajarkan pada kita pada setiap akhir suratnya:

Mari tanya “mengapa tidak?” lebih sering

Ada sedikit catatan tak terkait dengan topik tulisan ini. Hari ini, 3 Juli 2009, milis Bahtera, milis bahasa dan penerjemahan bahasa Indonesia, berulang tahun yang ke-12. Selamat ulang tahun! Semoga semakin bisa memberikan sumbangsih bagi perkembangan bahasa Indonesia. Mohon maaf saya sudah melanggar aturan EYD:

Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.

Kurang seru soalnya kalau artikel ini diberi judul “Lima W dan Satu H.”

Firefox 3.5

1 Juli 2009 by Ivan Lanin

Sore tanggal 30 Juni kemarin (waktu Jakarta), dengan moto “It’s Time for an Upgrade“, Mozilla merilis versi 3.5 penjelajah atau peramban web Firefoxnya. Peristiwa ini cukup seru dibahas di jejaring sosial seperti Twitter (dengan tag #fx35) dan Facebook, walaupun (tampaknya) tidak seheboh seperti waktu peristiwa kematian Sang Raja Pop lima hari sebelumnya.

Sebenarnya agak malas membahas sesuatu yang pasti bakal banyak dibahas di blogosfer seperti peristiwa ini. Saya cuma mau menyiapkan jawaban untuk orang-orang di kantor saya yang kemungkinan besar bakal bertanya: “apa sih keunggulannya?”

Keunggulan (dan kelemahan)

Yang langsung terasa adalah bahwa versi Firefox (FF) 3.5 ini lebih cepat sewaktu menampilkan suatu halaman web. Untuk beberapa lama, saya pikir kebocoran memori (memory leak), yang dikenal merupakan salah satu kelemahan FF, cukup berhasil diatasi di versi ini. Ternyata tidak. Di Wolverine, komputer jinjing saya, membuka sepuluh tab FF tetap menyedot memori hingga 600 MB!

Hal baru lainnya di FF 3.5 yang cukup kasat mata adalah perubahan antarmuka dan fitur untuk pengaturan privasi hingga mode pribadi seperti yang sebelumnya sudah diimplementasi oleh Google Chrome dan Internet Exporer 8.

Beberapa hal lain yang terlalu canggih untuk dapat langsung dirasakan pengguna awam adalah perkembangan dukungan terhadap HTML 5, CSS 3, JSON, DOM, XUL, dll. Daftar lengkap penambahan dan pengembangan fitur FF 3.5 dapat dilihat di nota rilis lengkapnya.

Ketakserasian pengaya

Yang mengganggu adalah, ternyata seperti biasa banyak pengaya (addons) yang tidak cocok dengan FF 3.5. Untung ada Bang Naif yang memberi petunjuk cara untuk “mengakalinya”:

  1. Unduh berkas XPI pengaya ke komputer lokal.
  2. Buka berkas XPI (yang sebenarnya merupakan berkas terkompresi seperti zip atau rar) dengan perangkat lunak pembuka berkas terkompresi macam Winzip atau WinRAR.
  3. Buka berkas install.rdf yang ada di XPI tersebut dengan editor teks seperti Notepad atau Editplus. Berkas ini sebenarnya merupakan berkas berformat XML.
  4. Cari baris yang mengandung pembatasan versi seperti <em:maxVersion>3.1</em:maxVersion>. Ganti angka tersebut dengan 3.5.
  5. Simpan perubahan berkas dan masukkan kembali berkas tersebut ke dalam XPI.
  6. Pasang XPI tersebut seperti biasa dan jalankan ulang FF.

Dengan cara ini, enam pengaya yang biasa saya pakai di FF 3 dan tadinya dinyatakan tidak sesuai dengan FF 3.5, bisa dijalankan kembali.

Kecuali Google Gears. Grrr.

Jadi?

Perlu memperbarui versi Firefox atau tidak? Kalau menurut saya, iya: perlu. Wong gratis kok, tinggal mengunduh saja kok repot? Hitung-hitung membantu menyundul jumlah unduhan Firefox.

Perlu menjadikan Firefox peramban baku di komputer Anda? Coba pikir dulu, butuh kecepatan atau fitur yang banyak? Kalau butuh kecepatan, saya sarankan pakai Google Chrome. Kalau butuh fitur, dengan segudang pengayanya, FF masih belum tertandingi.

Suatu survei kecil-kecilan yang saya sebarkan melalui twitter menghasilkan simpulan bahwa 56% penggiat Internet Indonesia masih memilih FF, Chrome 28% persen, dan sisanya (16%) memilih penjelajah web lain.

Atau mau pakai yang lain juga boleh. Bagimu perambanmu, bagiku penjelajahku. Ya, Mas?

Pembentukan kata

25 Juni 2009 by Ivan Lanin

Scribd, layanan berbagi dokumen daring, untuk sekian kalinya terbukti sangat bermanfaat. Sewaktu penasaran mencari tahu apakah pedantic seharusnya diserap menjadi pedantik atau pedantis, saya menemukan dokumen Pembentukan Kata yang menjabarkan dengan cukup jelas masalah ini.

Pengetahuan mengenai proses pembentukan kata atau lema sangat berguna untuk membentuk istilah baru bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari bahasa asing, atau paling tidak untuk memahami bagaimana suatu padanan kata bahasa Indonesia dibentuk dari bahasa asalnya.

Proses pembuatan kata bentukan yang memiliki makna baru dari kata dasar dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu

  1. afiksasi atau pengimbuhan – misalnya berdamai,
  2. reduplikasi atau pengulangan – misalnya abu-abu, serta
  3. komposisi atau pemajemukan, misalnya garam dapur, roda gila.

Pembentukan kata dapat juga dilakukan dengan kombinasi ketiga cara tersebut.

Afiksasi

Afiks atau imbuhan adalah morfem atau bentuk terikat yang digunakan untuk membentuk neologisme. Biasa dikelompokkan menurut posisi penempatannya terhadap kata dasar, jenis imbuhan yang paling sering digunakan dalam bahasa Indonesia adalah:

  1. prefiks (awalan, misalnya me-, ber-, nara-),
  2. sufiks (akhiran, misalnya -an, -wan),
  3. infiks (sisipan di tengah, misalnya -em-, -el-), dan
  4. konfiks (gabungan dua afiks tunggal, misalnya ke- -an, pe- -an).

Contohnya istilah nirkabel sebagai padanan wireless dari bahasa Inggris yang terdiri dari kata dasar wire (kabel) dan sufiks -less. Sufiks -less dalam bahasa Inggris bisa berarti tidak, tanpa, atau kurang. Afiks yang memiliki makna serupa dalam bahasa Indonesia sebenarnya ada beberapa, seperti awa-, dur-, nir-, dan tuna-. Kenapa akhirnya dipilih nir-, mungkin karena lebih enak terdengarnya dan bukan berarti bahwa semua sufiks -less pasti dialihbahasakan menjadi nir-.

Reduplikasi

Reduplikasi adalah fenomena linguistik berupa pengulangan suatu kata atau unsur kata (fonem, morfem) membentuk lema baru yang dapat mengubah makna dasar. Dalam bahasa Indonesia, reduplikasi sering dilakukan dengan menambahkan tanda hubung (-).

Komposisi

Banyak sekali lema yang dibentuk melalui proses pemajemukan dalam bahasa Indonesia, contohnya rumah sakit, terima kasih, dll.

Yang menarik adalah, meskipun EYD telah mengatur dengan cukup jelas tata cara penulisan gabungan kata, masih banyak ditemukan kesalahan yang dilakukan pengguna bahasa Indonesia dalam menuliskan kata majemuk. Prinsip ringkas penulisan kata gabungan adalah:

  1. Ditulis terpisah antar unsurnya. Contoh darah daging.
  2. Boleh diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian dan menghindari salah pengertian. Contoh orang-tua muda.
  3. Ditulis terpisah jika hanya diberi awalan atau akhiran. Contoh: berterima kasih.
  4. Ditulis serangkai jika sekaligus diberi awalan dan akhiran. Contoh: menyebarluaskan.
  5. Ditulis serangkai untuk beberapa lema yang telah ditentukan. Contohnya manakala, kilometer. Daftar lengkap bisa dilihat di pedoman EYD.

Kateglo

Kateglo 0.0.21 mencoba menerapkan pengetahuan pembentukan kata ini dengan:

  1. Penggabungan tipe kata berimbuhan dan kata majemuk menjadi kata turunan yang lebih umum. Memang jadi tidak spesifik, tapi karena sebenarnya kata bentukan bisa merupakan kombinasi pemberian imbuhan, penggabungan dengan kata lain, dan perulangan, pembagian saklek menjadi dua jenis tipe malah bisa menyesatkan. Toh nanti bisa dipilah dengan ekspresi reguler.
  2. Penambahan kelompok lema imbuhan. Hal ini dimaksudkan agar pengguna bahasa Indonesia jadi lebih sadar bahwa bahasa Indonesia pun cukup kaya afiks dan tahu bahwa -er atau -ger itu bukan sufiks bahasa Indonesia.

Hal lain yang dilakukan antara lain adalah:

  1. Penyiapan fitur pengalihan, untuk menandai mana kata yang sering salah eja. KBBI telah berbaik hati karena menyertakan juga lema-lema yang sebenarnya salah dengan memberi tanda panah → menuju jalan yang benar. Contohnya apotikapotek, atau resikorisiko.
  2. Pemasukan data terjemahan yang telah diizinkan penggunaannya dengan lisensi bebas oleh ebsoft dan gkamus. Bagian terjemahan dimasukkan dalam entri kamus di antara tesaurus dan glosarium. Contohnya pada entri dua.

Ada yang tahu, data kamus daring mana lagi yang cukup bagus untuk disertakan di Kateglo dengan lisensi bebas sesuai dengan CC-BY-NC-SA?

Pengelolaan pengetahuan kolektif

23 Juni 2009 by Ivan Lanin

Logo MediaWikiPengetahuan kolektif dari individu-individu dalam suatu organisasi adalah aset yang harus dikelola dengan baik. Kendala yang harus diatasi adalah motivasi dan aturan main dalam sistem kolaborasi. Konsep wiki sangat tepat untuk pengelolaan pengetahuan kolektif.

Sadar atau tidak, sistematis atau sporadis, semua organisasi telah, atau paling tidak berupaya, melakukan pengelolaan terhadap aset pengetahuan yang dimilikinya. Praktik identifikasi, pengumpulan, penyimpanan, distribusi, dan adopsi pengetahuan ini dikenal dengan nama manajemen pengetahuan.

Pengetahuan kolektif

Setinggi apapun tingkat kepakaran seseorang, ia tetap memiliki keterbatasan dan sudut pandang tertentu. Para akademisi sudah mengakui hal ini dengan adanya suatu budaya penilaian sejawat (peer review) untuk publikasi dalam jurnal akademik.

Seperti kata pepatah “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit,” pengetahuan yang diperoleh dari “sedikit” pengetahuan masing-masing individu di dalam organisasi, jika dikumpulkan akan menjadi suatu “bukit”. Hasil pengumpulan pengetahuan secara kolektif ini bahkan kadang lebih baik dibandingkan jika hanya bergantung pada segelintir orang atau pakar.

Proses pengumpulan informasi dapat dilakukan dengan lebih cepat jika dilakukan secara kolektif karena melibatkan sumber daya yang lebih banyak. Pemeliharaan dan pembaruan pengetahuan pun dapat dilakukan lebih baik dengan konsep kolektif karena semua orang akan dapat membantu menambahkan atau memperbarui informasi tanpa harus saling menunggu.

Bayangkan betapa hebatnya kumpulan pengetahuan yang diperoleh suatu organisasi jika masing-masing individu dalam organisasi tersebut turut berkontribusi menyusunnya!

Kendala

Yang menjadi kendala dalam hal ini, sama dengan proyek-proyek tim lainnya, terutama adalah motivasi. Kerja tim sedikit menenggelamkan kerja individu dan hasil kerja tim tidak akan bisa diklaim sebagai hasil karya perorangan. Sedikit banyak hal ini mungkin mengurangi motivasi orang-orang tertentu untuk berkontribusi karena menghalangi kesempatan menonjolkan diri atau karya sendiri.

Kendala lain adalah pola kerja sama. Pelibatan banyak otak dan pendapat dalam suatu karya sangat berpotensi menciptakan konflik. Perlu ada suatu aturan main yang jelas, di samping kebesaran hati semua pihak, untuk dapat melaksakan kerja bersama dengan mulus.

Wiki untuk mengelola pengetahuan kolektif

Konsep wiki, yang memungkinkan partisipasi luas dari banyak orang, sangat menunjang pengelolaan pengetahuan kolektif. Wikipedia, salah satu contoh implementasi wiki, merupakan bukti keampuhan konsep ini dengan menjadi salah satu repositori pengetahuan terbesar di Internet berkat kumpulan partisipasi “kecil” dari para kontributornya. Contoh yang paling saya senangi adalah perkembangan artikel Sejarah Cina dari hanya dua kalimat hingga terpilih menjadi artikel pilihan melalui suatu kerja kolektif.

Dalam lingkup yang lebih kecil, yaitu lingkup organisasi, wiki juga dapat diterapkan untuk mengelola pengetahuan kolektif. Kebijakan, prosedur, petunjuk kerja, serta berbagai cukilan pengetahuan lain dapat menjadi bahan yang, alih-alih dikelola hanya oleh satu bagian, dikerjakan secara bersama sesuai aturan main yang ditentukan.

Bagaimana cara menggunakan wiki untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi? Lain kali akan coba saya bahas dengan lebih rinci. Tidak sabar menunggu? Sesuai konsep wiki, buat saja artikelnya sendiri, nanti saya tambahi.

Sambil lalu, bagi yang belum tahu, perangkat lunak MediaWiki yang digunakan oleh Wikipedia tersedia gratis. Jika belum punya server sendiri atau mau mencoba-coba dulu, inang gratis tersedia di wiki-site.com.